The Lost

Standar

THE LOST

 by 

Title: The Lost

Cast: Changmin, hint of any other characters

Length: one shot

Warning: harry potter!au

 ***

Changmin merasa ada yang tidak beres dengan badannya akhir-akhir ini. Jantungnya terkadang berdetak terlalu cepat, sesak napas, mudah gelisah, konsentrasi terganggu, keringat dingin yang selalu mengucur deras terutama di dahi dan telapak tangannya, dan terakhir ia sering kehilangan kontrol atas tubuhnya sendiri.

Gejala penyakit apa ini? Seingat Changmin ia tidak makan makanan aneh ataupun melakukan aktivitas berbahaya. Semuanya normal seperti biasa. Setiap pagi ia akan bangun pukul enam tepat, kemudian ia akan gosok gigi dan membersihkan diri. Ia akan menunggu Yunho di ruang rekreasi Slytherin dan mereka akan berangkat sarapan bersama sebelum kelas dimulai. Setelah sarapan dimulailah segala kebosanan dari pelajaran hari itu. Semua membosankan di Hogwarts kecuali quidditch dan mem-bully murid junior dan beberapa profesor di sana.

Tidak ada penyakit menular aneh di Hogwarts. Changmin masih baik-baik saja setelah kunjungannya ke Hogsmade dua minggu yang lalu. Ia tidak minum minuman aneh saat pelajaran ramuan, makan tumbuhan seperti mandrakes ataupun geranium bertaring. Di kelas mantra, transfigurasi, dan pertahanan terhadap ilmu hitam pun Changmin tidak mempelajari sihir berbahaya. Ia hanya mengulang beberapa pelajaran yang ia dapat pada kelas enam-Changmin baru naik ke kelas tujuh tahun ini. Atau ia tertular virus berbahaya saat mengantar Yunho yang sakit perut ke klinik minggu lalu? Kalau diingat-ingat penyakit Changmin bermula setelah ia berkunjung ke klinik.

“Apa aku terlihat sakit?”

Yunho memperhatikan Changmin dari ujung kepala sampai ujung kaki. Bola matanya bergerak naik turun beberapa kali.

Yunho menggeleng, “aku bahkan tidak pernah melihatmu sesehat ini.”

Changmin memutuskan memercayai ucapan Yunho. Dengan pipi tembam dan kondisi enerjik begitu, mana mungkin ada yang mengatakan Changmin sakit?

“Kau merasa tidak enak badan? Mau kuantar ke klinik Hogwarts?” Yunho yang khawatir dengan keadaan Changmin menyarankan. Ada baiknya kalau Changmin diperiksa oleh orang yang ahli.

“Kurasa tidak ada salahnya.”

Changmin dan Yunho berbalik dari tujuan utama mereka, yaitu kelas Pemeliharaan Satwa Gaib. Yunho dengan senang hati mengantar Changmin ke klinik. Sesekali bolos itu menyehatkan.

 

“Ada yang bisa kubantu?” seorang gadis dengan rambut hitam tebal panjang sepunggung menyapa Yunho yang memasuki klinik pertama kali. Dia memakai seragam Hufflepuff, mungkin murid yang jadi sukarelawan menjadi asisten perawat.

Changmin merasakan lagi keanehan pada tubuhnya. Ia berdiri tepat di belakang Yunho, mencoba menyembunyikan tubuhnya yang lebih tinggi.

“Hai, Kyuna!” Yunho menyapa Cho Kyuna, murid kelas tujuh dari asrama Hufflepuff yang mengobatinya saat ia keracunan roti buatan muggle minggu lalu.

“Kau keracunan lagi?” gadis itu memeriksa Yunho yang tampak baik-baik saja.

Yunho menggeleng kemudian menunjuk Changmin yang ada di belakangnya dengan jempol. Kyuna mencoba mendapat penglihatan yang lebih jelas tentang Changmin yang masih tidak mau memperlihatkan dirinya.

“Temanmu kenapa?”

Yunho menengok ke arah Changmin yang sekarang benar-benar tampak seperti orang sakit. Wajahnya pucat dan berkeringat. Yunho bisa melihat jemari Changmin yang gemetar.

“Entahlah. Sejujurnya aku ingin kau memeriksanya. Tadi dia tampak baik-baik saja, kok.” Kening Yunho bertaut bingung.

Changmin masih tidak mau beranjak dari tempatnya berdiri di belakang Yunho. Perasaan-perasaan aneh itu muncul lagi. Kali ini Changmin bisa merasakannya dengan jelas. Bagaimana jantungnya berdetak sangat cepat dan nervous luar biasa. Ia tampak sangat gelisah.

“Ehem,” Kyuna berdecak, “bisakah kau menunjukkan dirimu agar aku bisa memeriksamu?” Kyuna bertanya dengan nada ramah.

Changmin membatu. Kakinya terasa mengakar di tanah, ia tidak bisa bergerak. Telinga Changmin berdenging. Ia merasa seperti tenggelam.

“Yah, Changmin-ah!” Yunho yang tidak sabar dan kesal terhadap tingkah aneh Changmin, menarik Changmin ke depan sehingga ia berada tepat di hadapan Kyuna.

Kyuna memeriksa Changmin dengan pandangan  teliti dan intens. Pemuda ini terlihat sangat sakit. Wajahnya memerah, tubuhnya berkeringat, tangannya gemetar, napasnya pendek-pendek dan sangat tidak teratur. Ia tampak tercekik dan sangat gelisah.

“Bagian mana yang sakit?” Kyuna kembali menggunakan nada super ramah saat bertanya. Ia takut suaranya akan mengagetkan Changmin dan membuatnya pingsan.

Tidak ada suara yang keluar dari bibir Changmin. Bibirnya tertempel rapat seakan menjadi satu. Kyuna dan Yunho memandangi Changmin dengan alis terangkat. Changmin hanya menggerak-gerakkan bola matanya, mengarah pada Kyuna sesekali pada Yunho.

“Hei, Shim Changmin! Katakan apa keluhanmu padanya!” perintah Yunho sambil menyentuh siku Changmin.

Changmin masih berdiri dengan posisi gelisah. Ia ingin melakukan sesuatu, tetapi ia sendiri bingung akan mulai darimana. Ugh, Changmin tidak menyukai keadaannya sekarang ini. Ia pasti terlihat seperti orang bodoh. Hei, Changmin adalah orang paling pandai di Slytherin, melebihi Kim Kibum si culun Ravenclaw.

Changmin hanya memandangi Yunho dengan  pandangan tidak yakin. Tiba-tiba saja ia kehilangan ide untuk berkata-kata.

“Katakan sesuatu agar aku bisa menyembuhkanmu. Tenang saja aku perawat yang baik.” Kyuna berkata dengan sangat hati-hati. Mungkin penyakit pemuda ini adalah penyakit aneh oleh karena itu ia malu mengatakannya.

“Kau yakin?” Changmin bertanya dengan pelan dan terdengar ragu-ragu.

Kyuna mengangguk mantap. Geez, ia sudah bekerja di klinik Hogwarts sejak kelas lima dan sering membantu ayahnya yang merupakan dokter para muggle. Kyuna beranjak mengambil perkamen dan pena bulu, kemudian ia meminta Changmin duduk di salah satu tempat tidur.

“Sekarang katakan apa yang kau rasakan.” Pinta Kyuna sambil bersiap dengan perkataan Changmin untuk ia catat.

Changmin menelan ludahnya susah payah sambil melirik bergantian Kyuna dan Yunho. Changmin memegang dada bagian kiri miliknya. Jantungnya berdegup amat kencang. Changmin membuka mulutnya perlahan, ragu dengan apa yang akan ia katakan.

“Ada yang tidak beres dengan dadamu?” Tanya Kyuna.

Changmin mengangguk, ia meremas jubahnya erat. “Jantungku….”

Kyuna menulis apa yang Changmin ucapkan di atas perkamen sambil menunggu ucapan Changmin selanjutnya.

“Kenapa? Apa yang kau rasakan?” Kyuna bertanya setelah Changmin hanya diam selama enam puluh detik.

Changmin meremas jubahnya semakin erat. Pandangannya terfokus ke lantai klinik yang berwarna hijau gelap, bayangan wajahnya yang pucat terpantul di sana.

“Sakit?” Kyuna kembali bertanya, terselip nada tidak sabar pada cara bicara Kyuna kali ini.

Changmin kembali mengangguk. Ya, jantungnya terasa sakit karena berdetak terlalu cepat. Kyuna kembali menggoreskan pena ke perkamen digenggamannya. Changmin melirik Kyuna yang tampak serius sekilas, ia kembali menunduk dengan wajah memerah saat Kyuna beralih dari tulisannya dan tersenyum pada Changmin. Ugh, Changmin menghembuskan napas panjang. Saat ini tiba-tiba paru-parunya terasa sesak.

“Oh, wajahmu memerah!” pekik Yunho. Changmin segera menutupi sebagian wajahnya dengan tangan.

Senyum Kyuna langsung berganti dengan tatapan serius bercampur khawatir. Sebenarnya pemuda ini sakit apa?

“Changmin, bisakah kau katakan padaku apa yang kau rasakan saat ini? Tenang saja, aku akan berusaha keras mencarikan obatnya untukmu.” Kyuna berkata meyakinkan Changmin.

“Ya, Changmin-ah. Aku yakin Kyuna mampu membantumu. Kau hanya perlu relaks.” Nasehat Yunho.

Changmin menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya lewat mulut perlahan. Ia melakukan hal yang sama beberapa kali sebelum akhirnya menjelaskan situasi yang ia alami pada Kyuna. Kyuna memperhatikan dengan sungguh-sungguh sambil mencatat. Sesekali ia akan mengangguk sambil menanyakan sedikit detail. Changmin tidak luput memerhatikan setiap perubahan ekspresi wajah Kyuna. Andai ia bisa meletakkan ingatan ini ke dalam pensieve agar bisa ia simpan selamanya.

Pemeriksaan Changmin selesai lima belas menit kemudian. Kyuna memeriksa isi perkamennya dengan alis bertaut. Ia tidak pernah melihat gejala seperti ini sebelumnya.

“Entahlah, Changmin-ah. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa padamu sekarang. Jantung berdebar kencang, rasa gelisah, insomnia.” Kyuna mengedikkan bahunya.

Changmin menatap Kyuna dengan pandangan kosong. Ia terlihat hilang dalam pikirannya sendiri. Oh my, gadis ini benar-benar keren mau mendengar apa yang ia racaukan. Changmin tidak yakin ia berbicara dengan jelas tadi, kepalanya terasa berkabut tadi.

“Hei, kau melamun ya?” Saat Kyuna menjentikkan jari di hadapannya barulah Changmin sadar. “Apa ini masuk ke dalam keluhan juga?”

“Kurasa ya. Changmin banyak melamun di kelas akhir-akhir ini.” Yunho menjawab untuk Changmin.

Kyuna menghela napas panjang. Ia membaca perkamennya sekali lagi kemudian berkata, “akan kupelajari dulu dan kutanyakan pada profesor. Aku akan mengabarimu setelah menemukan hasilnya.”

Changmin tidak bicara apapun. Ia hanya diam memandangi Kyuna sambil menggigit bibir bawahnya, wajahnya masih memerah.

Changmin keluar dari klinik dengan lengan kiri diseret oleh tangan-tangan kekar Yunho. Tiba-tiba saja ia merasa kakinya berubah menjadi jeli, Kyuna menambahkan hal ini ke perkamennya.

 

Kyuna sudah berkonsultasi dengan ketua perawat tentang penyakit Changmin, namun mereka menemui hasil nihil. Ia juga sudah menemui semua profesor di Hogwarts, mereka memberi Kyuna gelengan kepala atau kerutan dahi sebagai jawaban. Kyuna juga sudah bertanya kepada ayahnya karena mungkin saja ada muggle yang mempunyai gejala yang sama dengan Changmin.

Kyuna sudah hampir putus asa. Berhari-hari ia hanya memfokuskan pikirannya mengenai keluhan Changmin. Ia sampai tidak memperhatikan pelajaran di kelas yang membuatnya mendapat hukuman membersihkan perpustakaan selama tiga hari. Jadi, sudah tiga hari ini Kyuna berkutat dengan buku dan debu tebal perpustakaan sambil memikirkan segala kemungkinan mengenai penyakit Changmin. Setiap hari ia akan kembali ke asrama tengah malam karena menghabiskan waktu membaca berbagai macam buku pengobatan.

“Aha!”

Mata Kyuna berbinar saat membuka halaman ke-300 sebuah buku berwarna biru dongker dengan halaman sampul tebal dan perkamen cokelat yang sudah tampak rapuh. Setiap sisi buku itu bergerigi karena dimakan serangga. Buku itu tidak mempunyai judul dan ditulis dengan huruf rune kuno. Siapapun pengarang buku ini, Kyuna harus berterima kasih padanya.

Kyuna membaca setiap halaman dalam buku dengan seksama. Apa yang ditulis oleh buku tersebut benar-benar tepat seperti keluhan Changmin. Semuanya ada tanpa terlewat satu katapun. Kyuna mengeluarkan perkamen dan bulu penanya, ia mulai menyalin resep dari buku tersebut untuk Changmin. Obatnya sungguh tidak sulit. Hanya sebotol eggnog yang diminum di bawah bulan purnama dan… alis Kyuna bertaut. Kata apa ini? Kyuna tidak dapat menerjemahkan rangkaian huruf terakhir. Ia tidak pernah menemui kata ini sebelumnya dan Kyuna yakin ia tidak pernah melewatkan satu kelaspun.

Kyuna memutuskan menyalin kata terakhir dan mencari terjemahannya nanti. Kyuna membawa buku tersebut untuk ia pinjam. Ia akan meminta bantuan Yunho atau profesor siapapun itu nanti.

 

Yunho memiringkan kepalanya ke kiri saat membaca buku tua yang disodorkan Kyuna.

“Kau tahu apa artinya?” Tanya Kyuna untuk yang entah keberapa kali karena sejak sejam yang lalu Yunho hanya menatap buku yang Kyuna bawa sambil bergumam tidak jelas.

“Hmmm….”

“Kau tidak tahu?”

Yunho kembali menjawab dengan bergumam, membuat Kyuna mulai kehilangan kesabaran. Kyuna sudah bertanya ke seluruh profesor di Hogwarts dan mereka semua kebingungan menerjemahkan huruf rune tersebut. Mereka bilang itu huruf rune terkuno yang pernah ada dan jarang digunakan.

Kyuna mulai berpikir jika diskusinya dengan Yunho sangat sia-sia, padahal Yunho adalah salah satu murid terpintar di Hogwarts dengan tingkat intelijen jenius.

“Tanda kurung lancip dengan angka tiga setelahnya. Sepertinya aku tahu sesuatu….” Yunho mengelus dagunya, memasang pose berpikir.

“Kau tahu sesuatu? Apa? Apa? Katakan!” Kyuna berteriak antusias.

“Entahlah. Kurasa ini bukan huruf rune kuno atau jenis rune lainnya.”

Kyuna mendengus sambil memutar bola matanya mendengar jawaban Yunho. Ia menutup dan merapikan semua bukunya kemudian beranjak meninggalkan Yunho di ruang kelas ramuan untuk pergi makan siang.

 

Kyuna kembali menelan kekecewaan karena kudapan favoritnya sudah tidak ada saat ia tiba di meja makan. Ia hanya mengambil roti dan steak sapi yang ada di hadapannya.

“Coklat?”

Mata Kyuna memancar senang melihat sebatang coklat yang disodorkan di tepat dihadapannya.

“Terima kasih.” Kyuna berucap gembira.

“Kembali kasih.” Orang yang memberinya coklat terkekeh, suaranya terdengar familiar.

“Changmin-ah? Kau sudah sehat?”

Wajah Changmin masih memerah dan ia terlihat tidak nyaman duduk di sebelah Kyuna. Telapak tangannya berkeringat dan matanya bergerak melihat antara roti Kyuna dan sushi miliknya. Sesekali Changmin mengusap tengkuknya dengan gerakan nervous.

“Kau tidak apa-apa?”

Bukannya menjawab pertanyaan Kyuna, Changmin malah balik bertanya. “Besok kau ikut ke Hogsmade?”

“Hmm,” Kyuna bergumam sambil mengangguk, ia sedang mengunyah sepotong kentang goreng.

“Oke, aku akan menunggumu di sana.”

Changmin beranjak setelah itu untuk bergabung dengan murid kelas tujuh lain dari Slytherin, Kyuhyun, dan dua orang murid kelas lima Gryffindor, Minho dan Jonghyun. Kyuna hanya menatap Changmin dengan pandangan bingung. Dari kejauhan ia dapat melihat jika teman-teman Changmin sedang menggoda Changmin. Wajah Changmin berubah bertambah merah dan ia menendang pantat Kyuhyun keras.

 

Teman-teman Kyuna langsung menjauh ketika Changmin mendekati Kyuna saat mereka sedang berkeliling Hogsmade.

“Dah, Kyuna! Bersenang-senanglah!”

“Changmin-ah, jaga Kyuna dengan baik!”

Mereka meninggalkan Kyuna sambil melambaikan tangan dan terkikik seperti orang maniak. What the heck?

“Hai!” Changmin menyapa Kyuna dengan pipi merona.

“Hai?” Kyuna membalas sapaan Changmin dengan nada bingung.

Changmin mengajak Kyuna berjalan dengan isyarat tangan. Mereka berjalan beriringan menyusuri Hogsmade. Hari ini tampak cerah dengan langit bertabur bintang dan bulan purnama yang tampak sangat dekat sehingga terlihat lebih besar dari normal.

Mereka berhenti di tepi danau yang memisahkan Hogsmade dengan Hogwarts. Gedung Hogwarts terlihat sangat kecil dari sini. Changmin duduk di rerumputan pinggir danau, ia menepuk-nepuk tempat di sebelah kirinya, menyuruh Kyuna duduk. Kyuna menurut. Selama beberapa saat, tidak ada yang mengatakan apapun. Mereka terlalu terlarut dalam pemandangan malam. Lukisan langit yang terpantul di permukaan danau benar-benar mempesona. Suaranya nyanyian siren yang bersahut-sahutan terdengar menyayat hati sekaligus memukau.

“Aku tidak pernah merasakan malam yang menakjubkan.” Kata Kyuna kagum.

“Yeah, sangat painfully beautiful.”

“Changmin-ah,” Kyuna menoleh dari pandangan di pinggir danau ke Changmin. “Bagaimana keadaanmu? Kau sudah baik-baik saja? Aku sudah menemukan hal yang sama seperti keluhanmu, tinggal sedikit lagi.”

Changmin hanya tersenyum lembut ke arah Kyuna. Dalam beberapa detik dada Kyuna berdesir. God, senyum Changmin lebih menakjubkan dari pemandangan apapun.

Changmin menyerahkan sebotol eggnog pada Kyuna. Ia membuka tutup botol eggnog-nya sendiri dan mulai meneguk isinya, Kyuna ikut melakukan hal yang sama. Lagi-lagi mereka hanya menikmati suasana sambil meminum eggnog.

“Mengenai keluhanmu,” Kyuna kembali memulai, ia meletakkan eggnog-nya yang tinggal separuh ke tanah di sebelah kakinya.

Changmin menoleh kepada Kyuna sambil meminum eggnog miliknya yang tinggal sekali teguk. “Hmm?”

Kyuna tampak berpikir sejenak, mencoba mengingat-ingat sesuatu. “Apa yang kita lakukan sekarang sudah sama persis seperti yang dikatakan buku. Hanya saja kurang satu hal.”

“Apa itu?”

Bahu Kyuna merosot mendengar pertanyaan Changmin, sudah berhari-hari ia memikirkan hal yang sama. “Entahlah. Aku belum bisa menemukannya.”

Changmin mendekatkan badannya kepada Kyuna, ia menghilangkan apa yang disebut personal space antara mereka. Dengan gerakan perlahan, Changmin mengangkat dagu Kyuna. Tindakan Changmin berikutnya benar-benar diluar dugaan.

Bibir Changmin begitu lembut dan hangat, kontras dengan udara yang begitu dingin. Kyuna bisa merasakan eggnog saat lidah Changmin menginvasi bagian dalam mulutnya. Kyuna menutup matanya, ia ingin mencari rasa lain yang benar-benar Changmin. And she felt it, that sweet taste.

Changmin sangat enggan melepaskan tautan bibirnya dengan Kyuna, tidak saat ini atau kapanpun. It felt so right and so sweet at the same time. Rasanya seperti nirwana. Changmin mulai merasakan kembali detakan jantungnya yang lebih dari keadaan normal. Ia sudah akan menjauh karena dadanya terasa sesak, tapi Kyuna menahannya.

Kyuna melingkarkan lengannya ke leher Changmin. Memperdekat tubuh mereka berdua yang hanya dipisahkan sweater untuk menghalangi dingin. Anehnya suhu tubuh mereka malah terasa semakin panas. Gerakan jemari Kyuna yang tertaut di rambut Changmin berhasil menormalkan detakan jantung Changmin, ia melingkarkan tangannya erat ke pinggang Kyuna, membiarkan tubuhnya mengontrol situasi, pikirannya terlalu berkabut untuk mengambil alih. Mereka hanya menjauh sebentar untuk mengambil napas kemudian menyatukan diri kembali untuk waktu yang lebih lama.

“Kau sudah menemukannya?” Tanya Kyuna di sela-sela napas yang terengah-engah.

Changmin mengangguk, “I love you.

Sekali lagi mereka terhanyut dalam make out session panjang dan super panas

 

Epilog

 

“Dasar bodoh!”

Changmin mengelus kepala belakangnya yang mengalami kontak dengan buku transfigurasi Kyuhyun.

Hyung, kau tidak tahu apa arti tanda ini?” Minho bertanya sambil menunjuk tanda ❤ yang ada di buku tebal bersampul biru dongker yang terlihat sangat kuno.

Changmin, Kyuhyun, Jonghyun, dan Minho sedang ada di perpustakaan sekarang, berusaha memecahkan misteri penyakit yang Changmin derita.

“Kau tidak sedang sakit apapun, Hyung. Kau hanya jatuh cinta.” Jelas Jonghyun sambil terkikik.

Changmin menautkan satu alisnya kepada Jonghyun.

“Jatuh cinta, bodoh!” tegas Kyuhyun sambil tertawa setan.

 

FIN

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s