Still I Love You part 6

Standar

Title: Still I Love You

Lenght: 6 of ?

Author: Min

Disclaimer: Tokoh yang ada dalam FF ini adalah diri mereka sendiri. FF ini hanya khayalan, tak ada  maksud apapun dalam FF ini. FF ini asli buatan saya yuuri66 © 2012

****

Cinta itu aneh, terlalu pelik untuk menjabarkan arti sebuah cinta. Seandainya dari awal memahami arti cinta itu, mungkin semuanya tak akan berakhir. Lalu, apakah cinta itu sebenarnya?

Still I Love You part 6 – Love is …

“Tentang Hyuna dan Changmin?”

Junsu mengangguk pelan, matanya menatap lurus pria didepannya yang tampak tak nyaman dengan perkataannya. “Kenapa hyung? Kau tak ingin aku membicarakan Hyuna dan Changmin?”

Jaejoong terdiam. Jantungnya berdegup cepat. Apa yang Junsu katakan memang benar, ia tak ingin membicarakan Hyuna dan Changmin untuk saat ini. Setelah ia melihat Hyuna berlari dengan wajah panik kearah Changmin yang pingsan tadi, membuatnya merasakan sakit  kenapa terus menggerogoti hatinya. Dan ia tak suka merasakan hal itu.

Junsu beranjak dari duduknya, berjalan pelan kearah Jaejoong yang hanya terdiam. Ditatapnya lekat manik mata kakaknya itu. “Kau tak suka aku membicarakan Hyuna dan Changmin?”

Jaejoong mendesah berat. Di langkahkan kakinya kearah pintu kaca geser kamarnya dan membukanya perlahan. Tubuhnya bersandar di tralis balkon kamarnya, matanya menatap lurus kearah gerbang apartementnya. “Tidak ada yang akan kita bicarakan tentang Hyuna dan Changmin.”

Junsu mencibir melihat sikap kakaknya itu. Dilangkahkan kakinya cepat kearah balkon, ditariknya pergelangan Jaejoong kuat. “Hyung!! Berhentilah bersikap seperti ini!! Sikapmu ini sudah menjelaskan semua perasaanmu!!” ditatapnya Jaejoong sengit.

Jaejoong melepas kasar pergelangan tangannya dari cengkraman Junsu. Bibirnya berdecak pelan, ditatapnya Junsu tajam. “Perasaanku? Kau tidak mengerti perasaanku, Junsu!! Tidak sama sekali!!” matanya lurus menatap manik mata Junsu.

“Kau merasa kehilangan kan, hyung? Aku bisa melihatnya, bahwa kau merasa kehilangan!!”ditekankan setiap perkataannya, matanya menatap Jaejoong lekat. Dapat ia tangkap perubahan di raut wajah kakaknya itu.

Kehilangan. Entahlah apa yang ia rasakan saat ini adalah kehilangan atau tidak. Yang ia tahu hatinya merasa sakit. Sakit yang tak dapat ia tahan, sampai rasanya ingin berteriak melampiaskan semuanya.

“Apa maksudmu, Junsu? Aku kehilangan? Kehilangan apa?”

Junsu mendesah gusar. Apakah Jaejoong benar tak sadar? Atau hanya berpura – pura? “Hyuna. Kau kehilangan Hyuna, hyung!!”

Bibir Jaejoong terkatup rapat. Rahangnya menegang. Entah apa yang harus ia katakan, entah mengapa ia tak bisa membantah perkataan Junsu. Walaupun ia ingin mengucapkan kalimat bantahan tapi pita suaranya seakan tercekat, tak mampu berujar. Ia hanya terdiam menatap Junsu.

“Awalnya aku pikir kau tak memiliki rasa itu dihatimu hyung, tapi aku salah. Ternyata kau mencintainya, hyung. Sikapmu menjawab semuanya, kalau kau mencintai Hyuna!! Dan kau merasa kehilangannya!!”

Jaejoong mengalihkan wajahnya. Jantungnya berdegup cepat, sesak menghipit napasnya. Ia benci saat rasa sakit itu menghujam hatinya, hatinya bagaikan tersayat. Junsu benar, ia merasa kehilangan gadis itu. Gadis itu benar – benar pergi darinya dan tak kan kembali berpaling padanya. Takkan pernah!!

Junsu memicingkan matanya menatap Jaejoong yang terpekur. Tangannya berkacak pinggang, bibirnya berdecak pelan. “Kau makin menunjukan perasaanmu hyung!! Sikapmu ini  semakin meyakinkanku kalau kau merasa kehilangan Hyuna!!”

Jaejoong menggeleng pelan. Bibirnya menyungging senyum getir “Tidak!! Aku tak merasa kehilangan Hyuna!! Karena dari awal Hyuna bukan… bukan- milikku.” Gumamnya lirih,  nyaris tak terdengar.

Junsu mendesah berat. Dibalikkan tubuhnya, memunggungi Jaejoong. “Baiklah kalau kau merasa seperti itu, Hyung.” Di tolehkan wajahnya pelan. “Aku sudah mengingatkanmu hyung, ku harap kau tak menyesal dengan keputusanmu ini.” Dilangkahkan kakinya pergi meninggalkan Jaejoong.

Jaejoong tertunduk dalam, tubuhnya terduduk; bersandar di tralis balkon. Pandangannya beralih menatap jendela samping apartementnya. Menatap kamar gadis itu. Tangannya mencengkram rambutnya kuat, kakinya tertekuk, kepalanya dibenamkan diantara kedua lututnya. Napasnya memburu, tubuhnya bergetar; menahan cairan bening yang entah kenapa kini berkumpul di pelupuk matanya.

“Hyuna, kenapa… kenapa- aku merasakan sakit yang terus menghujam hatiku? Ada apa sebenarnya denganku? Kenapa aku… merasa ada sesuatu yang hampa di hatiku? Kenapa Hyuna?”

***

Changmin tarpaku menatap kehadiran gadis itu dihadapannya. Tak mungkin gadis itu datang menemuinya. Bukankah gadis itu mestinya bersama dengan pria itu. Tapi kenapa gadis itu malah datang menemuinya?

“Hyuna, kau.. kau datang tuk melihat keadaanku?” tanyanya tak yakin. Ia tak ingin terlalu berharap dengan kedatangan Hyuna. Ia tak ingin merasakan sakit yang lebih dalam lagi, jika berharap sesuatu yang ia tahu tak mungkin jadi miliknya. Karena Hyuna telah memilih dari awal dan pilihan gadis itu bukanlah dirinya.

Hyuna menatap Changmin yang tampak terkejut melihat kehadirannya. Ia tahu, kehadirannya tak akan mengubah apapun; mengubah perasaannya pada Changmin. Hanya saja, ada sesuatu yang menariknya tuk begitu perduli pada Changmin.

Dilangkahkan kakinya pelan, berjalan menghampiri Changmin yang menatapnya. Ia berhenti tepat disamping Reina. Ditolehkan wajahnya menatap Reina sekilas. Reina berdecak pelan dan mengalihkan wajah darinya. ‘Maaf Reina, hanya saja- aku.. ingin tahu keadaan Changmin. Hanya itu, sungguh.’

Pandangannya beralih kearah Changmin, bibirnya mengukir senyum tipis. “Kau tak apa kan? Apa kau sudah merasa lebih baik, Changmin?” perlahan ia gerakan tangannya menyentuh kening Changmin.

Changmin hanya terdiam menatap Hyuna yang tengah menyetuh keningnya. Darahnya berdesir halus, merasakan sentuhan Hyuna ditubuhnya. Perasaan senang menyusup ke dalam hatinya.

“Tak sepanas tadi siang.” Ujar Hyuna pelan, diturunkan tangannya dari kening Changmin. Ia sedikit terkesiap saat Changmin menjalinkan jemarinya lalu menggenggamnya erat. “Akh Changmin, tanganmu-“ matanya menatap genggaman Changmin di tangannya.

Changmin menatap lekat Hyuna, jemarinya semakin mengeratkan jalinannya. “Aku senang kau disini. Terima kasih sudah menemuiku, Hyuna.” bibirnya melukiskan senyum tipis.

Hyuna terdiam, menatap Changmin yang tengah tersenyum kearahnya. Ada suatu getaran yang terasa di dadanya, bergemuruh  dan membuncah. ‘Kenapa dengan hatiku? Kenapa terasa seperti-’

“Ya!! Shim Changmin!! Jangan lupakan aku dan Reina disini!!”

Changmin terkesiap, dilepaskan jalinan jemarinya dan Hyuna. Ia hampir melupakan kehadiran Kyuhyun dan Raina diantaranya. “Akhh maaf, aku.. aku-” ia tergagap.

Hyuna menjauh dari Changmin, ia kembali berdiri disamping Kyuhyun.  Wajahnya menoleh pelan kearah Reina. Gadis itu tampak menatapnya sinis. Ditundukkan kepalanya cepat, menghindari tatapan Reina.

“Aku pikir, lebih baik aku pulang. Aku sudah senang mengetahui keadaanmu Changmin. Aku permisi.” ujar Hyuna terburu, dibalikkan tubuhnya pergi.

Changmin bergegas bangun, saat Hyuna beranjak pagi. “Akhh tunggu!! Biar aku antar kau pulang!!” pekik Changmin. Kakinya melangkah kearah Hyuna. Changmin menoleh cepat saat dirasakan seseorang mencengkram pergelangan tangannya kuat. “Reina?”

Reina menatap Changmin penuh. Changmin tampak kaget dengan tindakannya; mencegah Changmin pergi kearah Hyuna. “Kau tidak boleh mengantarnya, Shim Changmin!!”

Alis Changmin terpaut. “Mwo?” matanya menatap Reina tanya.

“Benar kata Reina, kau tak perlu mengantar. Aku bisa pulang sendiri, lagipula ada Junsu yang akan pulang bersamaku.” ujar Hyuna cepat. Berharap Changmin tak memaksakan dirinya, lagipula sikap Changmin padanya mungkin membuat Reina semakin membencinya.

“Kau dengarkan katanya, ia tak perlu diantar. Dan kau masih sakit Changmin!!Berhentilah bersikap seolah kau baik – baik saja!!” dipererat cengkraman tangannya di lengan Changmin. Menahan pria itu untuk tinggal.

“Tapi.. aku-”

“Ya!! Shim Changmin!! Kalau kau mengantarnya pulang dan terjadi sesuatu denganmu pasti gadis ini akan susah!!” sela Kyuhyun cepat.

“Lebih baik kau istirahat saja, aku sudah merasa lega setelah melihat keadaanmu. Aku permisi.”pamit Hyuna, diraihnya knop pintu dan berlalu pergi.

Changmin terdiam, menatap pintu ruang kesehatan yang tertutup. Hyuna pergi. Gadis itu kembali pergi dan menjauh darinya. Tuk kesekian kalinya ia melihat gadis itu pergi dan berpaling darinya.

‘Apakah aku boleh berharap, kau akan kembali Hyuna? Dan kau berpaling padaku. Mungkinkah itu terjadi?’

***

Jaejoong terdiam menatap jendela kamarnya, pandangannya kosong. Pikirannya mengawang, perkataan Junsu membuat pikirannya tertuju pada Hyuna. Entah kenapa kini ia merasa takut, wajah gadis itu seakan memenuhi pikirannya. Hatinya terasa sesak saat kilasan gadis itu berlari kearah Changmin dengan kepanikan terlihat jelas diwajahnya. Pertama kalinya ia melihat Hyuna sepanik dan sekhawatir itu.

‘Hyuna, katakan padaku kenapa sesak ini terus menghantuiku setiap melihatmu, membayangkan wajahmu!!’

Dibuka kaca geser kamarnya, ia terduduk disamping kaca, menikmati semilir dingin angin malam yang berhembus menyentuh kulitnya. Kakinya tertekuk, lututnya menopang wajahnya. Pandangannya menelisik kearah balkon samping kamarnya. Menatap kamar Hyuna yang tertutup tirai, tak pernah ia lihat gadis itu keluar kamar lagi. Terakhir saat gadis itu menunggunya setelah menyatakan cinta. Setelah itu tak pernah. Ada rasa rindu yang kian menelusup semakin dalam tiap mengingat gadis itu.

‘Ini aneh Hyuna, entah kenapa aku rindu dengan caramu memandangku, senyummu dan terlebih dirimu….’

Jaejoong sadar ada yang janggal di hatinya, suatu yang ia tahan, tak dapat diungkap. Ia terlalu takut tuk mengungkapkan kejanggalan dihatinya, saat ia ungkap semuanya akan menjadi lebih buruk. Ia takut apa yang ia rasakan adalah suatu kesalahan, yang tak pantas ia ungkapkan. Hanya cukup ia yang rasa dan tahu.

“Mungkin aku memang memiliki rasa itu untukmu, tapi… aku-” gumamnya lirih, perkataannya tertahan. Perasaannya membuncah, merasakan setiap debaran yang terus memompa jantungnya begitu kuat. Membuatnya sesak tak tertahankan.

“Aku takut, menyakitimu… sungguh, aku takut apa yang kupilih ini adalah suatu kesalahan..” tanpa sadar cairan bening menetes jatuh disudut matanya, ia tak kuasa menahan sakit yang terus menusuk hatinya. “Aku takut, aku bukan yang terbaik untukmu dan aku….takut menyakitimu lebih dalam lagi, Hyuna…”

“Mungkin ia memang bukan untukku dan tak mungkin akan jadi milikku… tak kan pernah!!”

Jaejoong terdiam, napasnya tercekat. ‘Suara itu… Hyuna?’

***

Hyuna mendesah berat, direbahkan tubuhnya ke ranjang. Melepaskan lelah yang menggelayuti tubuh dan hatinya. Hari yang memporak – porandakan hatinya, pengakuan Changmin dan keputusannya melepaskan cintanya pada Jaejoong.

“Jung Hyuna, apa yang akan kau lakukan setelah ini hmm? Bagaimana dengan Reina? Apa kau mau Reina semakin membencimu?” dibenamkan kepalanya kebantal, kepalanya terasa penat. Wajah Jaejoong dan Changmin berkelebat didalam pikirannya.

“Hyuna, kau didalam?”

Hyuna menoleh cepat, saat terdengar derit pintu  kamarnya. Tampak kakaknya berdiri didepan pintu kamarnya.

“Yunho oppa, masuklah.” bibirnya mengembangkan senyum. Tubuhnya bangkit, duduk ditepi ranjang.

“Oppa, mau bicara sesuatu padaku?”

Yunho duduk disamping Hyuna, tangannya mengusap puncak kepala adiknya singkat. Hyuna tersenyum tipis, merasakan kehangatan tangan Yunho yang membelainya. Dikalungkan lengannya, kepalanya bersandar dibahu Yunho.

“Oppa, mau bicara apa? Apa tentang Jaejoong oppa? atau Changmin?”

Yunho terkekeh kecil mendengar pertanyaan adiknya. “Kau tahu aku akan membicarakan mereka rupanya.”

Hyuna mengangguk pelan. “Aku hanya merasa aneh, karena tak biasanya oppa datang kekamarku. Terakhir ke kamarku, oppa bicara tentang Jaejoong oppa, jadi kurasa kali ini oppa akan membicarakan hal yang sama.”

Yunho kembali terkekeh, dibelainya puncak kepala adiknya itu. “Kau menutupi perasaanmu dengan baik Hyuna. Kau tampak seperti Hyuna, adikku yang biasa. Walau aku tak tahu, seperti apa rasa sakit yang kau tahan.”

Hyuna terdiam menatap lekat kakaknya yang menatapnya nanar. Ada  kekhawatiran yang terpancar jelas di sorot mata yang selalu tegas itu. Dipererat kalungannya dilengan Yunho, jemarinya menggenggam kuat jemari kakaknya itu. Dirasakan tubuhnya menghangat, kakaknya merangkulnya; membenamkan dirinya dipelukan lengan kokoh yang selalu melindunginya.

“Kalau kau, ingin menangis tak perlu kau tahan Hyuna. Kau bisa berbagi sakitmu, dukamu, laramu padaku. Karena sampai kapanpun, aku akan melindungi dan menjagamu!! Aku takkan pergi, sampai kau sendiri yang melepaskan genggaman tanganku.” dipererat rangkulan dan genggamannya pada Hyuna.

Didongakan wajahnya menatap Yunho. Dibelainya lembut pipi kakaknya itu. “Ne, terima kasih.” bibirnya menyunggingkan senyum.

“Oppa, walau hati ini terasa sakit tapi tak apa. Karena aku sudah cukup mendapatkan kasih darinya walau kasih yang berbeda.” dilepaskan pelukkan Yunho. Kembali senyum terlukis dibibirnya. Kaki berjalan pelan menuju balkon, dibuka kaca geser kamarnya. Tubuhnya terdiam disamping jendela kamarnya.

Yunho terdiam, menatap punggung adiknya. “Hyuna kau-”

“Mungkin ia bukan untukku dan tak mungkin jadi milikku… Takkan pernah!!”ditolehkan wajahnya kearah Yunho. Senyuman kembali menghias bibirnya.

Yunho termangu, menatap Hyuna. Adiknya kembali tersenyum tapi senyum getir yang merekah dibibir merah adiknya. ‘Apa aku takkan pernah melihat senyum bahagiamu Hyuna? Senyum  yang selalu kau rekahkan tuk menenangkan hatiku tentangmu.’

“Aku mencintai Jaejoong oppa. Sangat amat mencintainya!! Tapi cintanya tak akan jadi milikku, karena cinta tak dapat dipaksa. Aku egois, sangat egois kalau aku memaksanya tuk mencintaiku.” di sandarkan tubuhnya ke tralis balkon, matanya menerawang menatap gelapnya langit malam. Dipejamkan matanya, perlahan cairan bening menetes dari sudut matanya. “Walau tak ingin, aku… aku- tetap harus menghapus… cintaku padanya.”

“Oppa, apa yang kupilih benarkan? Kau mendukung keputusanku kan?”

Yunho menatap nanar Hyuna, yang tengah tersenyum dengan linangan air mata. Dilangkahkan kakinya cepat kearah Hyuna. Direngkuh tubuh Hyuna kedalam pelukkannya. Meredam isak tangis adik kecilnya itu. “Ne, kau benar Hyuna. Kau mengambil keputusan yang bijak untuk perasaanmu pada Jaejoong. Dan kau pantas bahagia dengan pria yang mencintaimu kelak.”

Dipeluk kakaknya erat, menenggelamkan sedihnya dipelukkan hangat kakaknya. “Terima kasih, Yunho oppa.”

***

‘Suara itu… Hyuna?’

Jaejoong hanya duduk terdiam, matanya mengintip diantara tirai kamarnya. Menatap gadis yang tengah mengusik pikirannya, hatinya. Hyuna. Gadis itu kini berdiri dibalkon.

“Aku mencintai Jaejoong oppa. Amat sangat mencintainya!! Tapi cintanya takkan jadi milikku, karena cinta tak dapat dipaksa.” Bibirnya menyungging senyum getir. “Aku egois kalau aku memaksanya tuk mencintaiku.” perlahan ia sandarkan tubuhnya ke tralis balkon,matanya menerawang menatap gelapnya malam. Matanya terpejam. “Walau tak ingin, aku…aku- tetap harus menghapus… cintaku padanya.”

Jaejoong terdiam, matanya menatap Hyuna lekat. Jantungnya berdegup cepat, disentuh dadanya pelan. Pandangannya berpendar menatap Hyuna yang kini tengah  dipeluk Yunho. Ditenggelamkan wajahnya diantara kedua lututnya. “Katakan.. padaku Hyuna apa cinta itu sebenarnya.. katakan kalau aku mencintaimu… katakan kalau yang ku rasakan padamu ini adalah cinta..” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.

“Katakan padaku Hyuna, apa yang harus ku lakukan agar kau tak beranjak dari sisiku….”

“Kumohon, katakan apa yang tengah melanda hatiku ini Hyuna…”

***

Hyuna terdiam menatap bangunan didepannya. Jantungnya berdegup cepat. “Seingatku ini tempatnya tapi..” ujarnya lirih. Dihirupnya napas dalam, tangannya menggenggam kuat bingkisan yang dibawanya.

“Tapi bagaimana kalau aku salah?”

Kembali ia tatap bangunan didepannya. “Mestinya aku tak kemari, lagipula aku hanya akan mengganggu.” dibalikkan tubuhnya. “Tapi aku kan hanya ingin melihat keadaannya saja. Apa aku-”

“Ya!! Kenapa kau tak menekan bell-nya? Kenapa malah berbalik pergi??”

Hyuna terdiam. Dibalikkan tubuhnya perlahan. Alisnya terpaut, memandang pria didepannya. Mengingat wajah pria itu. “Kau temannya Changmin yang kemarin kan?”

“Aku Kyuhyun. Kau mau menjenguk Changmin kan? Kenapa tidak menekan bellnya dan masuk??”

“Eh- aku.. aku-” Hyuna tergagap.

Kyuhyun mendesah singkat melihat gelagat gadis didepannya. Dilangkahkan kakinya menghampiri gadis itu. “Kau ingin menjenguknya kan?”

Hyuna mengangguk pelan menjawab pertanyaan Kyuhyun. “Ne, tapi tidak jadi. Sepertinya kedatanganku akan mengganggunya. Aku pulang saja, permisi.” dibalikkan tubuhnya cepat, bergegas pergi meninggalkan Kyuhyun.

“Ya!! Tunggu!! Kau Jung Hyuna kan?” dicengkramnya lengan Hyuna kuat, mencegah gadis itu untuk pergi.

“Akhh ne, aku Jung Hyuna.” ditatapnya Kyuhyun ragu, entah kenapa pria itu membuatnya sedikit takut.

Kyuhyun menghela napas berat. Ditatapnya Hyuna penuh, gadis itu tampak bergedik memandangnya. “Kalau begitu cepat masuk!!” ditariknya lengan gadis itu, masuk bersamanya kedalam rumah Changmin.

Hyuna terperajat saat Kyuhyun menariknya kasar masuk kedalam rumah Changmin. Bahkan pria itu tak menekan bell dan langsung masuk ke dalam rumah.

“Ya!! Ya!! Kita masuk tanpa izin!!” tangannya mencoba melepaskan cengkraman Kyuhyun.

“Changmin tinggal sendiri, tak masalah kalau kita langsung masuk!!”

“Eh? Maksudmu, Changmin dia-”

Kyuhyun mendesah gusar, dihentikan langkahnya. Dibalikkan tubuhnya menatap Hyuna.

“Orang tuanya sibuk!! Pelayan hanya datang untuk membersihkan rumahnya, setelah itu pulang.”

Hyuna terdiam. Ia ingat saat Changmin memintanya untuk menemani makan beberapa hari yang lalu. Ternyata Changmin sendirian, tak ada yang menemaninya. ‘Jadi selama ini Changmin sendirian.’ dipandangnya ruangan rumah Changmin terlihat mewah dan elegan tapi terasa kesunyian yang meliputi rumah itu. ‘Apa kau merasa kesepian dirumah sebesar ini Changmin?’

Kyuhyun menghela napas berat. “Ya!! Jangan diam saja!! Kau naik keatas lalu ke kiri, pintu pertama adalah kamar Changmin.”

Hyuna terkesiap. Matanya mengerjap pelan. “Eh? Aku sendiri ke kamar Changmin? Kau tidak ikut?”

Kyuhyun berdecak pelan. “Aku mau mengambil minum dulu di kulkas, kau duluan saja!!” dibalikkan badannya, berjalan ke arah ruangan yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.

“Ya!! Tunggu!! Kita bersama ke kamar Changmin!!”

Hyuna mendesah gusar, Kyuhyun tak menanggapi perkataannya. “Aishh~ Bagaimana ini? Apa aku susul saja ia kedapur? Tapi-” ditolehkan wajahnya, matanya memandang kearah tangga disampingnya. “Tapi aku ingin cepat mengetahui keadaan Changmin.” gumamnya lirih.

Dihirupnya napas dalam. Perlahan ia langkahkan kakinya menaiki tangga, langkahnya berhenti tepat di pintu pertama sebelah kiri. Pintu kamar Changmin. Ditatapnya pintu kamar Changmin, tangannya terayun tuk mengetuk pintu kamar itu.

‘Ketuk pintunya Hyuna. Jangan ragu!!’ Ayunan tangannya terhenti, saat pintu kamar Changmin tiba – tiba terbuka.

Napasnya tercekat, memandang pria didepannya yang tampak terkejut melihat kehadirannya.

“Hyuna? Kau datang??”

***

Jaejoong melempar bola basketnya kasar. Napasnya memburu. Latihan club basket hari ini kacau. Ia tak dapat mengontrol perasaannya. Wajah gadis itu terus mengusiknya. Ia terus melakukan kesalahan selama latihan tadi.

Direbahkan tubuhnya ditengah lapangan, dihirupnya napas dalam menghilangkan penat yang mengganggu pikirannya.

Dipejamkan matanya perlahan. “Apa yang akan kau lakukan sekarang Jaejoong?? Ia telah pergi!! Hyuna telah pergi!!” gumamnya lirih.

Siluet wajah gadis itu kembali hadir dipikirannya. “Kenapa Hyuna? Kenapa aku terus memikirkan perkataanmu semalam? Katakan padaku, apakah perasaan ini cinta ataukah benar hanya rasa sayangku sebagai kakak padamu? Kumohon katakan sesuatu padaku Hyuna!!”

“Hei kau sedang apa ditengah lapangan seperti ini? Kegiatan club sudah selesai!!”

Jaejoong membuka matanya cepat, seorang pria tengah menatapnya. “Akhh Yoochun sunbaenim!!” pekiknya.

Yoochun terkekeh pelan, direbahkan tubuhnya disamping Jaejoong. Diliriknya Jaejoong sekilas.”Kau kekasihnya Heeyoung kan?”

Jaejoong terperajat, mendengar pertanyaan Yoochun. “Akhh itu- Aku dan Heeyoung, tidak-”

Yoochun kembali terkekeh. “Kau tidak perlu menutupinya dariku, aku mengenal Heeyoung dengan sangat baik. Ia tak mungkin mau bersama seorang pria dalam waktu yang lama, kalau ia tak nyaman dengan pria itu.”

“Tapi aku-.”

“Sikap Heeyoung menunjukan jelas hubungan kalian berdua, lagipula saat latihan Heeyoung begitu perduli padamu.” sela Yoochun, tubuhnya beranjak bangun duduk disamping Jaejoong.

“Akhh kami hanya-.”

“Tak perlu sungkan padaku.” kembali Yoochun menyela perkataannya.

Jaejoong mendesah berat, percuma ia mempertegas hubungannya dengan Heeyoung.

Tubuhnya bangkit, mengambil posisi duduk disamping Yoochun. “Sunbaenim, sepertinya kau salah paham antara hubunganku dan Heeyoung. Kami berdua hanya-” perkataannya terhenti, saat dilihatnya seorang gadis berjalan cepat kearahnya dan Yoochun. Ketidaksukaan tergambar jelas digaris wajah gadis itu.

“Ya!! Park Yoochun! Apa yang kau bicarakan dengan Jaejoong? Jangan mengurusi urusan pribadi orang lain.”

Yoochun terkikik pelan, wajah sedikit mendongak menatap gadis yang kini tepat berdiri dihadapannya. Ia berdiri, berhadapan langsung dengan gadis di depannya.

“Aku hanya mengajaknya berbincang, kau tak perlu khawatir aku akan bicara macam – macam Heeyoung.” ditepuknya bahu Heeyoung singkat. Dan berlalu pergi.

Jaejoong terdiam, menatap wajah Heeyoung. Air wajah gadis itu meremang, tangannya terkepal kuat. Pelupuk mata itu mulai tergenang cairan bening yang siap melesat turun.Sejenak hal itu membuatnya melupakan gadis yang mengusik pikirannya saat ini. MelupakanHyuna.

‘Heeyoung, apa hubunganmu sebenarnya dengan Yoochun  sunbae? Kenapa raut wajahmu selalu seperti itu bila menyangkut Yoochun sunbae. Apa kau-’

***

Changmin terpaku menatap gadis didepannya. Entahlah ia tak begitu yakin dengan penglihatannya saat ini. Apakah ia sedang bermimpi? Apakah karena kepalanya terlalu pusing sehingga ia melihat Hyuna berdiri didepan pintu kamarnya? Atau kah gadis itu memang Hyuna?

“Hyuna? Kau datang?” tanyanya, tak yakin.

“Ne, aku datang menjengukmu. Maaf, aku masuk tanpa izin. Aku datang bersama dengan temanmu Kyuhyun. Ia sedang didapur mengambil minum.” jawabnya kikuk.

Hyuna menatap Changmin, pria itu hanya terdiam menatapnya. Apa Changmin tak menyukai kehadirannya? Atau apa?

“Akhh tapi sepertinya aku menggangu istirahatmu.” ujarnya cepat, dibalikkan tubuhnya bergegas pergi meninggalkan Changmin. “Akhh ini untukmu, walau tak enak aku harap kau mau memakannya.” langkahnya terhenti sejenak, tangannya menyodorkan bingkisan yang ia bawa kearah Changmin. Dan kembali bergegas pergi.

Changmin terkesiap, dicengkramnya lengan Hyuna kuat; mencegah gadis itu pergi. “Jangan pergi!! Aku hanya tak menyangka kau akan datang menjengukku.”

Hyuna menoleh pelan, menatap Changmin. Matanya melirik pergelangan tangannya yang dicengkram Changmin. “Tapi aku-”

“Kau tak menggangguku, sungguh!” sela Changmin cepat. Diperkuat cengkraman tangannya. Berharap gadis itu akan mengerti.

“Changmin, aku tak akan lama disini. Kau butuh istirahat, lagipula ada Kyuhyun yang menemanimu. Lebih baik aku pulang saja.” dilepaskannya cengkraman tangan Changmin, terasa panas. Suhu tubuh Changmin masih tinggi, dapat ia rasakan tangan pria itu yang begitu panas.

“Kau masih sakit, bahkan tanganmu terasa panas.” digenggamnya tangan Changmin pelan, seolah tangan pria itu begitu rapuh baginya. “Kau harus istirahat, kehadiranku hanya akan mengganggu istirahatmu.” dilepaskan genggamannya dari tangan Changmin.

“Tapi aku-.” perkataannya terhenti, saat terdengar dering ponsel dari saku celananya. Diambil ponselnya cepat. Matanya membaca caller id penelponnya. “Aishh~ Cho Kyuhyun!! Untuk apa dia menelpon??” umpatnya kesal.

Ditekannya tombol terima, sembari mendekatkan ponselnya ke telinga. “Ada apa menelpon? Bukankah kau ada didapur rumahku sekarang? Mwo?! Kau sudah pulang? Ya! Cho Kyuhyun!! Kau-” Changmin mendesah gusar, Kyuhyun mematikan telponnya. Pandangannya beralih kearah Hyuna. Digenggamnya jemari gadis itu kuat.

“Kyuhyun  sudah pulang. Aku sendirian di rumah sebesar ini. Apa kau juga akan meninggalkanku ,Hyuna?” dipererat genggamannya, berharap gadis itu tak meninggalkannya.

Hyuna terdiam menatap Changmin. Pria itu tampak begitu pucat, keringat dingin mengalir deras dipelipisnya. Menandakan pria itu benar – benar sakit. “Tapi aku-.”

BRUK

Hyuna terkesiap, saat Changmin jatuh di bahunya. Napas pria itu memburu, hawa panas terasa jelas menyentuh kulit tubuhnya. “Ya!! Changmin!! Kau baik – baik saja?” pekiknya, ditopangnya tubuh Changmin yang semakin bersandar kearahnya. Dirasakan genggaman Changmin dijemarinya semakin menguat.

“Kumohon… jangan pergi!!” napasnya terengah. Tubuhnya seakan tak kuat menopang dirinya lagi. Ia lemas, kepalanya terasa berdenyut semakin kuat. “Kumohon… jangan tinggalkan aku sendiri…. Aku.. aku- tak mau sendiri. Jangan pergi…”

***

Jaejoong hanya diam, menatap Heeyoung. Gadis itu tak bergeming, tak bicara; terdiam disampingnya. Entahlah ia sendiri bingung tuk memulai pembicaraan dengan gadis itu. Ia takakan bertanya perihal hubungan Heeyoung dan Yoochun, kalau gadis itu tak menceritakan padanya.

Dihelanya napas berat, sembari beranjak dari duduknya. “Kajha!! Kita pergi ke suatu tempat, aku rasa kau butuh tempat untuk menenangkan diri.” diulurkan tangannya ke arah Heeyoung.

Heeyoung mendongak, menatap uluran tangan Jaejoong. Bibirnya membentuk lengkungan tipis, mengulas senyum simpul yang dipaksakan. “Kau mau mengajakku kemana?”

Jaejoong meraih tangan Heeyoung, memaksa gadis itu berdiri. “Kemana pun yang membuatmu merasa tenang.”

Heeyoung terkekeh kecil, perasaan hangat menyusup kedalam hatinya mendengar perkataan Jaejoong. Dapat ia rasakan ketulusan dan keperdulian yang diberikan Jaejoong padanya. Sesuatu yang tak pernah ia rasakan sejak masa lalu pahit itu membayangi hidupnya. Entah kenapa ia merasa nyaman berada disamping Jaejoong.

‘Terima kasih kau begitu perduli padaku, Jaejoong.’

***

“Jangan pergi…. kumohon.. jangan tinggalkan aku sendiri…”

Hyuna mendesah singkat, Changmin terus mengigau sejak tadi. ‘Apa kau begitu kesepian, Changmin?’ dipasangnya kompres dingin di kening Changmin.

“Kumohon… jangan pergi dariku…”

Changmin mengigau, tak hentinya pria itu mengulang perkataan yang sama. Ditatapnya Changmin sendu, Changmin terlihat resah dan keringat terus mengalir ditubuhnya. Disekanya keringat Changmin. Tak sampai hati ia meninggalkan Changmin dalam keadaan seperti itu.

“Apa yang harus kulakukan sekarang? Kau terlihat begitu kesakitan.” digenggamnya pelan jemari Changmin. Wajahnya tertunduk dalam, perasaan kalut menggelayutinya.”Kumohon.. bangun. Jangan membuatku semakin mencemaskanmu…,”

Diperat genggamannya di jemari Changmin. Matanya memandang lekat Changmin, perlahan ia gerakan tangannya membelai wajah Changmin berharap pria itu akan tersadar. “Changmin, bangun…. kumohon…”

Hyuna terdiam. Matanya memanas, cairan bening menggenang dipelupuk mata. Ia begitu takut sesuatu terjadi pada Changmin. “Tuhan, kumohon sembuhkan Changmin… aku mohon padamu tuhan…” perlahan cairan bening mengalir dipipinya. Dibenamkan wajahnya di tepi ranjang Changmin, tangannya tetep menggengam jemari Changmin.

“Kumohon…. sembuhkan Changmin..”

“Ya!! Changmin!! Kau dimana hah?”

Hyuna terkesiap, kepalanya terangkat pelan. Terdengar suara seseorang dari luar kamar Changmin. “Ada yang datang?” gumamnya lirih, ditegakkan tubuhnya. Matanya beralih menatap pintu kamar Changmin.

“Ya!! Changmin!! Kau dikamar??”

Napasnya sedikit tercekat saat pintu kamar Changmin terbuka. Seseorang tampak berdiri diambang pintu kamar Changmin, menatapnya terkejut.

“Kau- siapa?” dilangkahkan kakinya masuk. “Sedang apa kau di kamar Changmin?” alisnya terpaut, menatap gadis yang kini tengah menggenggam tangan Changmin.

“Akhh maaf, aku -”

***

“Apa kau sudah merasa lebih baik? Tempat ini cocok untuk menenangkan diri, bagaimana menurutmu  Heeyoung?”

Heeyoung menoleh pelan kearah Jaejoong. Lalu beralih menatap langit yang tampak bersemu kemerahan. “Ne, kau benar.” dipejamkan matanya, menikmati semilir angin sore yang membelai lembut tubuhnya.

“Rasanya begitu tenang merebahkan diri diantara ilalang ini.” sudut bibirnya tertarik, mengulas senyum tipis. “Aku tak menyangka ada tempat seperti ini di Seoul. Apa kau sering kemari?” kembali ia tolehkan kepalanya menatap Jaejoong yang berbaring disampingnya.

Ditatapnya Jaejoong penuh. Jaejoong hanya terdiam dengan mata terpejam. Tangannya menyilang dibelakang kepalanya. “Apa kau sering kemari?” ulangnya.

“Aku…” perlahan ia buka matanya, wajahnya menolah kearah Heeyoung. Gadis itu menunggu jawaban darinya. “Aku dulu sering kemari.” lanjutnya.

Heeyoung menggumam paham. “Terima kasih kau memberitahu tempat ini padaku, Jaejoong. Aku akan kemari saat perasaanku tak nyaman.” bibirnya mengulas senyum tipis. Matanya kembali menerawang menatap langit.

“Ini akan jadi tempat rahasia kita berdua. Bagaimana? Saat kau merasa sedih, aku akan menemanimu ke tempat ini. Begitu pula sebaliknya. Kau setuju?”

Tak ada jawaban dari Jaejoong. Tubuhnya beranjak bangun, duduk disamping Jaejoong yang masih merebahkan tubuhnya. “Kau tak mau ku jadikan tempat ini sebagai tempat rahasiaku juga hmm?”

Jaejoong beranjak duduk, kakinya tertekuk. Matanya menatap langit yang semakin meredupkan sinarnya. “Bukan, hanya saja tempat ini sudah ada pemiliknya.” matanya menatap Heeyoung sendu.

“Eh? Siapa pemiliknya? Bukankah ini taman umum yang bisa didatangi siapapun, jadi aku rasa tak masalah aku menjadikan tempat ini sebagai tempat rahasia kita kan? Bukankah tempat ini tak banyak diketahui orang?”

“Ne, kau benar tapi bukan aku yang menemukan tempat ini pertama kali. Aku pun mengetahui tempat ini dari seseorang.”

“Siapa? Apa Yunho? Kau sering kemari bersama Yunho?”

Jaejoong menggeleng pelan. “Bukan. Bukan Yunho tapi…” bibirnya mengukir senyum getir. “Hyuna.. dia yang mengajakku ketempat ini tuk pertama kali.” lanjutnya. Kembali ia rebahkan tubuhnya.

“Hyuna, dia- dia… memberiku ketenangan setiap bersamanya.” dipejamkan matanya perlahan, siluet gadis itu kembali hadir dalam pikirannya. Membuat rasa sesak yang begitu menusuk hatinya kembali terasa jelas.

“Dan… tempat ini-  tempat rahasia kami berdua.” dihirupnya napas dalam, direntangkan tangannya.  Rasa itu kembali membuncah, mengombang – ambing perasaannya. Dibuka matanya perlahan. “Tak ada satupun yang tahu, selain kami berdua.”

Heeyoung terdiam, ditatapnya Jaejoong yang tampak menikmati angan yang berkecamuk dipikirannya. Walau terlihat gurat kerinduan di garis wajah pria itu tapi Jaejoong terlihat begitu tenang.

“Kalau ini tempat rahasia kau dan Hyuna, kenapa kau mengajakku ketempat ini? Kenapa kau menarikku masuk diantara kau dan Hyuna, -sesuatu yang hanya kalian berdua miliki? Kenapa?” matanya menatap sengit kearah Jaejoong, entahlah kenapa ia tak nyaman dengan perkataan Jaejoong. Tak suka. Perasaan itu yang mengusik pikirannya saat ini, tentang Hyuna dan Jaejoong.

“Eh?” Jaejoong terkesiap, tubuhnya beringsut bangun. Kembali duduk disamping Heeyoung. “Apa maksud perkataanmu? Aku dan Hyuna-”

“Kakak dan adik. Kau hanya menganggap Hyuna adikmu. Aku tahu.” sela Heeyoung cepat.Dialihkan wajahnya dari Jaejoong.

Jaejoong terdiam. Kepalanya terasa berdenyut kuat, jantungnya memompa cepat. Hampa. Ia merasakan suatu kehampaan saat Heeyoung memperjelas hubungannya dengan Hyuna.

Sudut bibirnya tertarik, melukiskan senyum getir. Bibirnya seakan kelu tuk berucap, mengiyakan perkataan Heeyoung. Padahal biasanya ia akan dengan tegas mengatakan tentang perasaannya pada Hyuna tapi entah kenapa ia tak nyaman dengan perkataan Heeyoung tadi.

“Ne, aku hanya menganggap Hyuna sebagai adikku.”

***

“Hyuna!! Ya!! Jung Hyuna!!”

Tak ada jawaban. Tirai kamar itu masih tertutup, tampaknya sang pemilik kamar tidak ada.”Aishh kemana dia? Biasanya ia akan ada di kamarnya, tapi kenapa tampak sepi sekali?” alisnya terpaut, dirapatkan tubuhmya ke tralis balkon kamar Hyuna; berusaha mengintip diantara sela tirai yang tampak terbuka.

“Ya!! Jung Hyuna!! Kau dikamarkan? Ya! Kenapa kau tak mengangkat telponku hah? Ya! JungHyu-”

“Ya!! Kim Junsu!! Berhenti berteriak memanggil Hyuna!!”

Junsu sedikit terperajat mendengar balasan seruannya -suara berat pria, disusul pintu kaca geser kamar Hyuna terbuka cepat. Tampak seorang pria keluar dari kamar Hyuna, pria itu menatapnya sinis.

Junsu terkekeh getir, melihat raut wajah pria itu yang tampak begitu kesal padanya. “Akhh Yunho hyung, kenapa kau yang keluar? Mana Hyuna?”

“Hyuna pergi dari tadi siang!! Jadi berhentilah berteriak memanggilnya!!”

“Mwo?? Pergi? Kemana? Kenapa ia tak bilang padaku, Hyung?”

Yunho berdecak pelan. “Aishhh untuk apa Hyuna bilang padamu? Aku yang kakaknya saja tak tahu ia pergi kemana. Ia hanya bilang akan pulang sore.”

“Apa Hyuna pergi dengan Youngji, hyung? Kenapa Hyuna tak mengangkat telponku?”

Yunho mendesah gusar. “Tidak tahu, yang ku tahu ia sudah sibuk didapur sejak pagi menyiapkan sesuatu. Lalu tak lama ia pergi.” jelas Yunho.

“Menyiapkan sesuatu didapur? Maksud Hyung, Hyuna memasak lalu pergi?”

“Ya, ia memasak tadi pagi dan membawa semua masakannya pergi. Ia tak bilang akan kemana padaku.”

Junsu terdiam. ‘Memasak? Hyuna memasak lalu pergi? Bukankah ia hanya akan memasak untuk Yunho hyung atau Jaejoong hyung saja? Tapi Yunho hyung ada di rumah, apa mungkin ia pergi menemui Jaejoong hyung yang latihan club di kampus sambil membawa bekal atau-’

“Changmin? Apa Hyuna pergi menemui Changmin yang sedang sakit? Tapi Hyuna kan-” gumamnya.

“Ya! Junsu!! Apa yang kau pikirkan hah? Ada apa dengan Changmin dan Hyuna?”

Junsu terkesiap. Digelengkan kepalanya cepat. “Tidak hyung, tidak ada. Akh aku ingat ada urusan, aku pergi dulu hyung!!” ujarnya cepat, sambil berlari pergi dari hadapan Yunho.

“Ya!! Kim Junsu!! Kau mau kemana??” pekiknya, saat Junsu tiba – tiba berlari meninggalkannya.

“Aishh kenapa dia?”

***

“Sudah hampir malam, lebih baik kita pulang. Akan ku antar kau pulang, Heeyoung.” Tubuhnya beranjak bangun, tangannya terulur kearah Heeyoung.

Heeyoung terdiam, menatap Jaejoong yang berdiri didepannya. Tangan pria itu terulur kearahnya, mengajaknya untuk berdiri.

Alis Jaejoong terpaut, menatap Heeyoung yang hanya terdiam memandangnya. Gadis itu tampat tak berniat tuk berdiri. “Kenapa diam saja? Kau masih ingin disini?”

Heeyoung menggeleng pelan. “Tidak. Hanya saja aku-.” Tubuhnya beranjak berdiri dari duduknya, tanpa menerima uluran tangan Jaejoong. “Aku tak ingin kau terlalu baik padaku, Jaejoong.” Dilangkahkan kakinya pelan, berjalan meninggalkan Jaejoong.

‘Karena aku bisa menyalah artikan kebaikanmu padaku.’

***

Jaejoong terpaku, Heeyoung tak menerima uluran tangannya tuk membantu gadis itu berdiri. Heeyoung hanya terdiam disampingnya.

“Aku tak ingin kau terlalu baik padaku, Jaejoong.”

Jaejoong menoleh cepat kearah Heeyoung. Apa yang barusan Heeyoung katakan? Terlalu baik padanya? Ia sedikit terkesiap saat Heeyoung berjalan pergi meninggalkannya.

“Ya!! Heeyoung!! Kenapa denganmu?”

Heeyoung tampak menghentikan langkahnya. Gadis itu menoleh pelan kearahnya, bibir gadis itu mengukir seburat senyum untuknya. Jaejoong terpangu, senyum Heeyoung tampak seperti senyum gadis yang mengusik pikirannya saat ini. Senyum getir Hyuna. Entah kenapa Heeyoung seperti Hyuna dipandangannya.

“Aku bisa pulang sendiri, kau tak perlu khawatir padaku.” Kembali Heeyoung melangkah pergi meninggalkannya yang terpangu menatap siluet tubuh Heeyoung yang menghilang dibalik tingginya ilalang.

Jaejoong terdiam, bibirnya mengulum senyum getir. Pandangannya kosong menatap ilalang yang bergerak seirama hembusan angin senja.

‘Kau meninggalkanku, seperti ia yang telah meninggalkanku…’

***

“Maaf, aku.. aku-“

“Katakan kenapa kau bisa ada di kamarnya Changmin? Bahkan kau menggenggam tangan Changmin seperti itu.”

Hyuna terkesiap. Dilepaskan genggamannya dijemari Changmin. Kepanikan terlihat jelas dari gelagatnya. Dengan cepat ia berdiri dari duduknya. Dibungkukan tubuhnya, menunduk. “Maafkan aku yang tak sopan berada dikamar Changmin. Aku hanya menjenguknya, tapi Changmin dia tiba – tiba pingsan makanya aku-“

“Siapa kau?” mata itu menatapnya penuh selidik.

“Jung Hyuna imnida. Aku teman sekelasnya Changmin.”

“Jung Hyuna? Kau Jung Hyuna?”

Hyuna mengangguk cepat. “Ne, aku Jung Hyuna. Maaf atas kelancanganku berada di kamar Changmin.”

“Aishhh ternyata kau Jung Hyuna. Perkenalkan aku Yoochun, kakak sepupunya Changmin.”

Hyuna terpangu menatap, uluran perkenalan pria didepannya. Ia sudah dibuat tak berkutik oleh pria didepannya, ia pikir pria itu akan memarahinya bahkan mengusirnya karena lancang masuk ke kamar Changmin tapi malah senyum hangat yang ia terima.

Alis Yoochun terpaut, gadis itu hanya terdiam menatapnya. “Hei ada apa denganmu?” dilambaikan tangannya di depan gadis itu. “Apa kau baik – baik saja?”

Hyuna terkesiap, digelangkan kepalanya cepat. “Tidak, aku baik – baik saja.” bibirnya mengembangkan senyum. “Sekali lagi maaf atas kelancanganku masuk kamar Changmin, Yoochun ssi” dibungkukkan badannya sekilas.

Yoochun terkekeh pelan. “Jangan terlalu formal padaku, santai saja. Kau bisa memanggilku Yoochun oppa.” bibirnya mengulas senyum.

Hyuna tergagap. “Akhh tapi aku-.”

“Changmin bercerita banyak tentangmu, rasanya aku sudah sangat mengenalmu.” ditepuknya bahu Hyuna singkat.

Hyuna mengerjap cepat, ia tak percaya dengan apa yang dikatakan Yoochun padanya. Changmin menceritakan dirinya pada Yoochun. “Changmin menceritakan diriku?”

Yoochun kembali terkekeh menatap wajah Hyuna yang tampak tak percaya dengan perkataannya. “Ne, Changmin bercerita banyak tentangmu padaku.” dilangkahkan kakinya kearah Changmin yang terlelap diranjangnya.

“Changmin, dia-” diambilnya posisi duduk disamping rajang Changmin. Pandangannya beralih, menatap Hyuna. “Tak ada topik pembicaraan selain dirimu, Hyuna.”

Hyuna terdiam. Matanya membulat, pompa jantungnya seakan tak terkendali. Ritmenya tak beraturan, debaran itupun semakin menguat. Menyelinap ke lubuk hatinya, suatu gambaran perasaan yang membuatnya tak bisa berpikir jernih saat ini. ‘Changmin selalu membicarakan tentangku? Changmin dia-’ dipandangnya Changmin lekat.

‘Changmin memikirkan ku? Mencintaiku? Benarkah Changmin?’ tatapannya berubah sendu, perasaan bersalah menggelayuti hatinya. Ia tak bisa membalas perasaan Changmin. Ada seseorang yang akan terluka jika ia menyambut perasaan itu. Dan ia tak mau hal itu terjadi.

“Hyuna…. jangan.. kumohon, jangan pergi….”

Changmin. Pria itu kembali menggumamkan namanya, tak sampai hati ia melihat  tampak begitu rapuh. Changmin, pria setelah Jaejoong yang mampu membuat pikirannya kacau. Membuatnya menatap dan beralih memandang Changmin. Tanpa sadar ia kini menatap wajah pria yang berbeda, bukan lagi pria itu melainkan Changmin.

“Kau dengar? Ia menggumam namamu. Selalu seperti itu.”

Hyuna terkesiap. Matanya membulat. “Eh? Changmin dia-”

Yoochun kembali terkekeh, melihat gurat keterkejutan diwajah Hyuna yang mendengar perkataannya. “Changmin selalu seperti itu, menyebut namamu. Aku mengetahui tentang dirimu saat Changmin tidur dan mengigau tentang dirimu. Aku pun heran kenapa malah namamu yang di panggilnya bukan kedua orang tuanya.”

“Melihatmu ada disamping Changmin dan menggenggam tangannya, membuatku berpikir tentang hubungan kalian berdua. Apa kau dan Changmin sudah-”

“Tidak. Aku dan Changmin hanya teman, lagipula ada seorang gadis yang mencintai Changmin. Gadis yang begitu mengenal dan mengerti Changmin.” selanya. Kilasan memori saat Reina memperingatkannya bergulir jelas dalam ingatan.

“Gadis yang mencintai Changmin, maksudmu Shin Reina?” Yoochun beranjak dari samping Changmin berjalan kearah meja belajar yang tak jauh dari ranjang. Tangannya meraih salah satu bingkai foto yang terjajar rapih di meja.

Hyuna membeliak, rahangnya menegang. Yoochun tahu siapa gadis yang ia maksud. ‘Jung Hyuna, kau bodoh tentu saja pria itu mengetahui gadis yang kau maksud. Kau sedang berbicara dengan kakak sepupu Changmin!! Pria yang begitu mengenal Changmin, mungkin mengenal Reina juga!! Bodoh kau Hyuna.’ umpatnya.

Yoochun menatap foto yang dipegangnya, ditunjukan foto itu pada Hyuna. “Changmin dan Reina, terlihat dekat tapi tidak seperti yang terlihat.”

“Eh? Maksud oppa apa?” matanya menatap foto Reina yang tengah merangkul bahu Changmin, terlihat senyum bahagia yang terpancar dari wajah Changmin dan Reina. Mereka berdua terlihat akrab difoto itu.

“Seorang yang dekat denganmu, bukan berarti akan jadi belahan jiwamu. Terkadang seorang yang tak kau kenal malah mengenalmu dengan baik. Mungkin ia lah yang akan jadi belahan jiwamu.”

Hyuna terdiam. Kepalanya terasa berdenyut kuat, napasnya seakan terhipit. Ia seperti dihantam benda keras mendengar perkataan Yoochun. Membuatnya tersadar akan suatu hal yang selalu mengusik pikirannya, hatinya. Ini bukan soal hubungan Changmin dan Reina tapi ini tentangnya dan pria itu. Tentang dirinya dan Jaejoong. Walaupun Yoochun membicarakan Changmin danReina, entah kenapa ia seperti disadarkan tentang hubungannya dengan pria itu.

‘Inikah alasan, kenapa Jaejoong oppa tak pernah mencintaiku? Kami terlihat sangat dekat tapi ternyata aku tak mengenal dirinya. Terlihat dekat tapi… ternyata- tak dekat…’

Bibirnya mengulum senyum dingin, kembali ia taruh foto itu di meja. “Aku rasa kau mengerti maksud perkataanku.”

“Aku-”

Ting Tong.. Ting Tong.. Ting Tong..

Perkataan Hyuna tertahan saat terdengar bunyi bel.

“Aku buka pintu dulu, mungkin teman Changmin yang lain datang menjenguk.”

Yoochun berjalan melewatinya yang tertunduk, penat menusuk sekujur tubuhnya. Perkatan Changmin terus terngiang di telinganya.

‘Aku gadis yang mengenalnya dengan sangat baik tapi.. ternyata.. aku- aku tak mengenalnya. Tak mengenal dirimu, hatimu yang sebenarnya Jaejoong oppa. Hingga aku salah mengartikan semuanya….’

“Ada seseorang yang mencarimu, Hyuna.”

Hyuna terperajat. Ia terpangu cukup lama, membuatnya tak sadar kalau Yoochun telah kembali. Ditolehkan wajahnya pelan. “Ne?” Matanya membulat, menatap seseorang yang berdiri disamping Yoochun.

“Ia bilang ingin menjemputmu pulang.” jelas Yoochun.

Hyuna menyerengit, menatap seseorang yang berdiri disamping Yoochun. “Junsu? Kau-”

***

Jaejoong menghela napas berat. Penat. Terlalu banyak pikiran pelik yang bergulir dikepalanya. Hatinya terhimpit akan jawaban dari perasaan yang tak tentu. Ia tak mengerti apa yang menderanya saat ini, ia jengah dengan perasaannya. Seperti terjebak dilabirin, ia ragu jalan yang ia pilih salah. Ia takut apa yang ia artikan dan putuskan adalah kesalahan yang mungkin akan ia sesalkan.

‘Kenapa perasaan ini begitu rumit?’ disentuh dadanya perlahan, irama jantungnya berdegup tak terkendali. Sesak menghinggapinya.

Jaejoong sedikit terkesiap, saat pintu lift appartementnya terbuka. Di langkahkan kakinya keluar lift.

‘Apa yang harus aku lakukan? Hati ini rasanya-’

“Sebenarnya ada apa denganmu hah?”

Langkahnya terhenti, tepat dipersimpangan dekat kamar appartementnya. Ia seperti mendengar suara gadis itu. Dari nada suaranya, gadis itu terdengar gusar.

‘Hyuna? Dengan siapa ia bicara?’

***

Hyuna mencibir kesal menatap pria yang berjalan didepannya. Tak ada satupun kata yang keluar dari bibir pria itu. Pria itu terus berjalan dan mengacuhkannya.

“Aishhh Menyebalkan!! Ya!! Kim Junsu!! Berhenti kau!!” teriaknya.

Langkah Junsu terhenti. Ditolehkan wajahnya menatap Hyuna yang terlihat begitu kesal. “Apa?”

Hyuna mendengus, dilangkahkan kakinya cepat kearah Junsu. “Ya!! Kau ini kenapa mengacuhkan ku hah? Sejak dari rumah Changmin kau terus diam!! Aku tanya, kenapa kau bisa tahu aku dirumah Changmin; tidak kau jawab. Selama perjalan pulang kau juga hanya diam, bahkan sampai rumah kau terus diam dan mengabaikanku!!” cecarnya.

Napasnya memburu menahan amarahnya pada Junsu. Junsu hanya menatapnya tanpa mengatakan apapun. Terdiam memandangnya. Aneh. Tak biasanya Junsu bersikap seperti itu padanya.

“Ya!! Kim Junsu!! Jangan diam saja!! Katakan sesuatu padaku!!”

Junsu hanya diam, memandang Hyuna. Entahlah ia sendiri tak tahu kenapa ia mengabaikan Hyuna. Mengetahui dugaannya benar kalau Hyuna dirumah Changmin membuatnya merasakan sesuatu yang janggal di hatinya. Ia sendiri pun tak tahu jawabannya.

‘Aku pun tak tahu kenapa aku bersikap seperti ini padamu, Hyuna.’ dibalikkan tubuhnya, meninggalkan Hyuna.

Hyuna terperajat. Dicengkramnya lengan Junsu kuat. “Ya!! Junsu!! Jawab pertanyaanku!!”

Junsu terdiam. Tubuhnya tak berbalik kearah Hyuna. ‘Hyuna, aku-’

“Sebenarnya ada apa denganmu hah?”

“Jangan diam saja!! Sikapmu ini membuatku bingung Junsu!!

Junsu mendesah berat. Dibalikkan tubuhnya menghadap Hyuna, matanya menatap manik kecoklatan itu lekat. Menatap Hyuna yang terdiam menunggu jawabannya.

“Hyuna, aku…. Aku-” perkataannya tercekat, pita suaranya seakan tak mampu mengeluarkan untaian kata yang ada dipikirannya. Terlebih tatapan Hyuna, membuatnya semakin tak mampu berujar.

Dihirupnya napas dalam. “Hyuna, mungkin aku-.”

***

Jaejoong terdiam, tubuhnya merapat ke dinding. Kakinya seakan berat tuk melangkah maju, mendekat kearah Hyuna.

“Jangan diam saja!! Sikapmu ini membuatku bingung Junsu!!”

Kembali ia dengar suara Hyuna. Gadis itu ternyata bicara dengan adiknya. Junsu. Tapi apa yang tengah mereka bicarakan? Kenapa dari nada suara Hyuna, gadis itu seperti menahan amarahnya. ‘Apa yang mereka berdua bicarakan?’

“Hyuna, aku…. Aku-”

Terdengar suara Junsu, suaranya terdengar parau dan ragu. Sebenarnya apa yang mereka berdua bicarakan? Apa hal itu menyangkut tentang dirinya? Tentang pembicaraannya dengan Junsu kemarin malam? Atau hal lain yang tak ia ketahui?

“Hyuna, mungkin aku-”

Jaejoong membeliak, perkataan Junsu membuatnya tersadar suatu hal yang selalu terlewat dari pikirannya. Sesuatu yang ia pikir dulu tak mungkin. ‘Apa Junsu akan mengutarakan hal itu? Tapi bukankah Junsu, dia-”

continue….

Thanks for read!! Don’t be silent reader!! Ending FF ini akan di protec, hanya good reader yang di berikan password :)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s