Still I Love You part 5

Standar

Title: Still I Love You

Lenght: 5 of ?

Author: Min

Disclaimer: Tokoh yang ada dalam FF ini adalah diri mereka sendiri. FF ini hanya khayalan, tak ada maksud apapun dalam FF ini. FF ini asli buatan saya yuuri66 © 2012

***

Entah sejak kapan mencintai bukan lagi sesuatu yang manis dan membahagiakan. Saat cinta terasa pahit dan menyakitkan, apakah cinta itu akan dilepas atau dipertahankan? Seandainya bisa memilih antara mencintai dan dicintai.  Apa yang akan kau pilih? Mencintai atau dicintai?

Still I Love You part 5 – Heart

Hyuna terkesiap bangun, saat terdengar suara derit pintu. ‘Apakah Changmin kembali? Atau?’

“Jung Hyuna, kau didalam?”

Tampak seorang pria kini tengah menatapnya gusar dengan tangan terlipat didepan dada. “Aishh kau pasti berpura – pura sakit!! Cepat kau bangun!!” ujar pria itu kesal sembari duduk ditepi ranjang.

Hyuna mendengus menatap pria disampingnya. “Ya Junsu!! Kenapa kau kesini dan siapa yang memberitahumu aku disini? Menggangguku saja!!” dibalikkan tubuhnya memunggungi Junsu.

Junsu mencibir. “Ya!! Aishh~ cepat kau bangun!!” ditariknya pergelangan tangan Hyuna cepat. “Kau bilang akan membantuku di stand club sepak bola!! Tapi malah tidur disini!! Menyebalkan!!”

“Aishh Junsu~ aku sedang kurang baik, jangan memaksaku tuk menemanimu saat ini!!” rajuk Hyuna, sembari melepaskan cengkraman Junsu dari pergelangannya.

Junsu mendesah berat, bibirnya berdecak pelan. “Kau bukannya sedang kurang baik tapi kau sedang menghindar dari Jaejoong hyung kan?”

Hyuna terdiam, perlahan beranjak bangun, duduk disamping Junsu. Ditatapnya Junsu lekat, bibirnya mengulaskan senyum. Junsu tampak menyerengit bingung menatapnya, perlahan ia sandarkan kepalanya dibahu Junsu, tangannya terkalung dipergelangan Junsu.

“Ya!! Hyuna!! Kau- kau.. kenapa?” Junsu tergagap, matanya menatap Hyuna yang tengah bersandar padanya.

Hyuna menghirup napas dalam, matanya mendelik menatap Junsu. “Aku sudah bertemu dengan Jaejoong oppa tadi.”

“Eh?” Junsu terdiam. Seketika kepalanya terasa berat membayangkan saat Hyuna bertemu Jaejoong tadi. Ia merasa kejanggalan pada diri Hyuna. Entahlah, hanya saja Hyuna tampak-. Lebih baik, mungkin.

Hyuna mengangguk pelan. “Hmm, aku bertemu dengannya Junsu.”

“Lalu?”

“Aku bilang padanya, akan menghapus cinta ini.” Disentuh dadanya perlahan. “Kau tahu Junsu, hati ini begitu sakit tapi ada sesuatu yang membuatku tak menyesali apa yang ku katakan padanya tadi.” Dipererat kalungannya di pergelangan Junsu.

Junsu terdiam mendengar setiap kalimat yang terucap dari bibir Hyuna. Ada perasaan lega dihatinya mendengar perkataan gadis itu.

“Junsu, apa kau mencintaiku?”

Junsu terkesiap mendengar pertanyaan Hyuna padanya. “Mwo? Kau- kau.. bilang apa?” kegugupan menyergapnya saat Hyuna menanyakan hal itu padanya. Kenapa Hyuna tiba – tiba menanyakan hal seperti itu?

“Apa kau mencintaiku, Junsu? Bagaimana perasaanmu saat aku mencintai Jaejoong oppa?”

Junsu terbelalak, dijauhkan tubuhnya dari Hyuna. “Ya!! Hyuna!! Kau.. kau- ini kenapa? Pertanyaanmu.. pertanyaanmu- aneh sekali!!”

Hyuna mencibir menatap Junsu yang terkejut mendengar pertanyaannya. “Aku kan hanya bertanya!! Ini hanya seandainya!! Seandainya kau mencintaiku, bagaimana perasaanmu saat tahu aku mencintai orang lain? Bahkan aku tak pernah sadar kalau kau mencintaiku. Apa kau akan tetap mencintaiku?”

“Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa ada sesuatu yang terjadi  padamu?”

“Kau jawab saja pertanyaanku!! Kalau seperti itu apa kau akan tetap mencintaiku atau tidak?”

Junsu mendesah pelan. Ditatapnya Hyuna sendu. “Apa jawabanku akan mempengaruhi cintamu pada Jaejoong hyung?”

“Bukan pada Jaejoong oppa.”

Alis Junsu terpaut. “Lalu pada siapa?”

“Aishh sudah jawab saja!! Jangan banyak tanya!!”

Junsu terdiam. Matanya menatap Hyuna lekat. “Aku akan tetap mencintaimu dan aku akan membuatmu menyadari kalau ada aku yang mencintaimu.”

Hyuna terpangu, perlahan seulas senyum tersampir dibibirnya. “Terima kasih atas jawabanmu.” Ia beranjak dari duduknya, berjalan keluar ruang kesehatan.

“Ya!! Jung Hyuna kau mau kemana?” pekik Junsu, saat Hyuna berjalan meninggalkannya.

Hyuna menoleh pelan. “Ke stand club sepak bola. Kau kesini memintaku untuk membantumu di stand kan? Kenapa kau hanya duduk saja, cepat kita ke stand club!!”

Junsu mendengus, dengan cepat ia beranjak dan bergegas menyusul Hyuna. “Aishh!! Jung Hyuna, tunggu aku!!”

**

Jaejoong terdiam, kepalanya terasa berdenyut. Suara gadis itu terngiang di telinganya, ‘Terakhir kalinya aku mengatakan rasa itu padamu, oppa. Akan ku hapus dirimu di hatiku, menghapus rasa yang membelenggu jiwaku. Selamat tinggal Jaejoong oppa’. Senyum getir terlukis di bibirnya, siluet wajah gadis itu membekas dalam ingatannya, membuatnya sesak.

Hatinya terasa sakit, begitu sakit sampai rasanya ia ingin berteriak. Aneh. Ia merasa sesuatu telah hilang dari dirinya. Begitu menyakitkan kehilangan gadis itu. Akhh ia tidak kehilangan gadis itu, bahkan gadis itu bukanlah miliknya. Ya, gadis itu bukan miliknya. Dari awal gadis itu bukan milik Kim Jaejoong.

“Apa kau baik – baik saja? Kenapa kau tidak menyentuh makananmu?”

Jaejoong terkesiap, saat terasa tepukkan lembut di bahunya. Ia menoleh pelan, tampak Heeyoung tengah menatapnya cemas. “Aku baik – baik saja. Makanannya masih panas.” Dialihkan kembali wajahnya dari Heeyoung.

Heeyoung terdiam, matanya lurus menatap Jaejoong penuh. Jaejoong kembali terdiam. Pria itu tengah menyembunyikan perasaannya sekarang. Ia tak ingin terlibat terlalu jauh dalam perasaan Jaejoong tapi seperti ada magnet yang terus menarik dirinya tuk terus melihat Jaejoong. Ada suatu persamaan yang membuatnya begitu memperdulikan Jaejoong, persamaan yang terlalu pahit tuk diingat.

“Gadis itu.. dia- dia.. mencintaimu kan?”

Jaejoong menoleh pelan kearah Heeyoung. “Ne?”

“Hyuna…. dia mencintaimu kan?” tanyanya ragu, ditatapnya Jaejoong lekat.

Jaejoong terbelalak, rahangnya menegang. Seketika wajah Hyuna terbesit di pikirannya. Dialihkan wajahnya dari Heeyoung. “Kenapa kau tiba – tiba bertanya hal itu?”

Heeyoung menghela napas berat. “Maaf, aku.. aku- tak sengaja mendengar perkataan Hyuna padamu tadi.”

Jaejoong mencibir. Kembali ia tatap Heeyoung, senyum dingin terkulum dibibirnya. “Hyuna, dia.. dia-“

“Apa kau juga mencintai Hyuna?” sela Heeyoung, ditatapnya Jaejoong penuh. Walaupun ia sendiri tahu jawaban dari pertanyaan yang ia ajukan tapi ia rasa Jaejoong akan memberinya jawaban yang berbeda.

Jaejoong terpaku, matanya membulat. Jantungnya berdegup cepat, napasnya tercekat. Rasa sesak itu kembali mendera hatinya. Bibirnya terkatup rapat, enggan berujar.

Heeyoung mendesah singkat, raut wajah Jaejoong sudah cukup menjawab pertanyaannya. “Kau mencintainya kan?” lebih seperti penegasan dibandingkan pertanyaan.

“Aku.. aku-.” dipejamkan matanya perlahan, siluet wajah gadis itu kembali hadir. “Aku mencintainya… sebagai adikku.” Dibuka matanya perlahan, menatap Heeyoung. “Bukankah sudah ku katakan padamu kalau aku hanya menganggap Hyuna sebagai adikku?”

Heeyoung terdiam, dialihkan wajahnya dari Jaejoong. “Ne, kau pernah mengatakannya. Maaf telah menanyakan hal itu padamu.”

**

Changmin terdiam, matanya menerawang menatap langit. Tubuhnya bersandar di tralis dinding atap sekolahnya. Bibirnya mengulas senyum getir. “Kau bodoh Shim Changmin!! Benar – benar bodoh!!”

Teringat saat ia mengutarakan perasaannya pada gadis itu. “Mungkin dia akan menghindariku setelah ini.” Kepalanya tertunduk dalam. “Aku sadar ia tak pernah menyadariku ada tapi aku hanya ingin ia melihatku, menyadari kehadiranku. Apa itu salah?”

Dipejamkan matanya perlahan. “Apa yang harus ku lakukan saat bertemu denganmu Hyuna? Apa aku harus mengatakan kalau aku hanya berbohong saat ku utarakan cinta padamu?”

Changmin menggeleng cepat. “Tidak!! Aku tidak boleh seperti itu!! Percuma aku mengatakan mencintainya kalau kata itu aku tarik kembali. Tapi apa yang harus kulakukan?”

Changmin tersentak saat terdengar derit pintu atap sekolah yang terbuka. Diangkat wajah, menatap lurus kearah pintu yang terbuka. Tampak seorang pria dengan napas memburu menatapnya kesal.

“Aishh akhirnya aku menemukanmu juga Shim Changmin.” Ujar pria itu sambil mengatur napasnya yang naik turun.

“Kyuhyun? ada apa?”

“Ada apa kau bilang? Aishh Shim Changmin aku mencarimu dari tadi!! Bahkan kau tidak mengangkat telponku!! Apa kau tahu sebentar lagi jam empat sore dan kau harus memberikan pidato penutupan!!” ujar  Kyuhyun geram sembari berjalan kearah Changmin cepat.

Changmin melirik arloji dipergelangan tangan kanannya, 20 menit lagi jam empat sore. “Akhh kau benar, sebentar lagi aku harus pidato menutup festival orientasi.”

Kyuhyun berdecak kesal. “Aishh kalau sudah tahu kenapa masih santai?? Reina dan yang lain sudah menunggu dibelakang panggung.” Ditariknya lengan Changmin cepat. Membawa Changmin meninggalkan atap sekolahnya.

**

“Bagaimana kami terlihat keren kan?”

Hyuna menatap seksama Junsu dan anggota club sepak bola. “Ne, seragam club sepak bola yang baru memang keren.”

Mata Junsu membulat. “Mwo?? Aishh aku bukan bertanya tentang seragamnya tapi tentang penampilan kami yang akan demonstrasi club!!” bibirnya berdecak kesal, tangannya terlipat didepan dada.

Hyuna terkekeh pelan, menatap Junsu yang tampak kesal padanya. “Kau itu kapten club masa kesal hanya ku goda seperti itu!! Apa tidak malu dengan anggotamu?”

Junsu mencibir. “Ya!! Jung Hyuna!! Kau- Aishh~” dihelanya napas berat.

Hyuna kembali terkekeh melihat raut wajah Junsu. “Kau lucu sekali, Junsu.”

“Ya! Hyuna!! Kau.. aish~~” Junsu mendasah gusar, menahan amarahnya.

“Ya Hyuna, jangan kau goda Junsu seperti itu!”

Hyuna menoleh cepat saat dirasakan seseorang merangkulnya, tampak Yunho sudah berdiri disampingnya. “Aishh oppa, kau mengagetkan ku saja!!” dilepaskan rangkulan Yunho dari bahunya.

“Hyung, kau bisa lihatkan betapa menyebalkannya adikmu ini?” cibir Junsu, matanya menatap Hyuna kesal.

“Mwo? Ya Kim Junsu!! Aishh~ kau ini menyebalkan sekali!!” ujar Hyuna geram sembari mencubit pergelangan tangan Junsu.

“Ya!! Hyuna!! Sakit!!” pekik Junsu, sambil mengusap pergelangan tangannya yang dicubit Hyuna tadi.

Yunho hanya menggeleng melihat sikap Hyuna dan Junsu. “Dasar kalian berdua ini, selalu seperti itu!!”

“Tapi mereka terlihat sangat akrab.  Akh annyeong Hyuna.”

Hyuna terkesiap, menatap gadis yang berdiri di samping Yunho. Ia baru sadar kalau kakaknya tidak datang sendiri. “Akhh annyeong onnie. Aku tidak menyangka kau akan datang. Senang bertemu denganmu lagi.” Dibungkukan badannya sekilas.

Hyewon tersenyum menanggapi perkataan Hyuna. “Ne, aku juga senang bertemu denganmu lagi.”

“Aishh kau itu yang kemana? Aku mencarimu daritadi!!” ujar Yunho kesal.

Hyuna tersenyum getir menanggapi perkataan Yunho. Hyuna terkesiap saat pergelangan tangannya ditarik kuat.

“Sudah bicaranya, lebih baik ke depan panggung. Sebentar lagi acara intinya akan dimulai.” Ujar Junsu cepat, sambil menarik Hyuna pergi.

“Akhh Junsu benar lebih baik segera ke depan panggung.”  Timpal Yunho sembari mengajak Hyewon menyusul Hyuna dan Junsu.

**

“Kemana saja kau? kami semua mencarimu, Changmin!”

Changmin tersenyum tipis menatap wakilnya – Reina yang tampak lega melihat kehadirannya. “Maaf aku sedikit lelah tadi. Jadi aku istirahat sebentar.”

Reina mendesah gusar. Dihirupnya napas panjang. “Ini pidato penutupan yang harus kau bacakan.” Sembari menyerahkan selembar kertas kearah Changmin.

Bibirnya mengukir senyum. “Terima kasih.” Diambilnya kertas pemberian Reina, dibacanya dengan seksama sembari duduk disalah satu kursi dekat tangga panggung.

Reina terdiam menatap Changmin. Ia baru menyadari wajah Changmin tampak pucat dan keringat mengalir deras di pelipis pria itu. Apakah Changmin sakit? Ia langkahkan kakinya kearah Changmin.

“Apa kau baik – baik saja? Kau tampak begitu pucat.” ditatapnya Changmin lekat.

Changmin mendongak, menatap Reina yang tampak khawatir dengannya. “Aku baik – baik saja, tidak usah khawatir.” Disunggingkan senyum diwajahnya.

“Benar tidak apa? Apa perlu aku menggantikanmu  pidato penutupan nanti?”

Changmin menggeleng pelan, senyum kembali terukir dibibirnya. “Tidak apa, aku baik – baik saja. Lebih baik kau mengurus keperluan yang lain, tak perlu mengkhawatirkan ku.”

Reina kembali terdiam, digigit bibir bawahnya pelan. “Baiklah kalau begitu, aku akan mengurus keperluan yang lain.” Dibalikan tubuhnya, berjalan meninggalkan Changmin. Sesekali wajahnya menoleh kembali kearah Changmin. ‘Kenapa kau selalu tak mau jujur denganku?’

Changmin mendesah pelan, melihat Reina meninggalkannya. Ia memang tak bisa membohongi penglihatan Reina, gadis itu selalu bisa membaca raut wajah bahkan perasaannya. ‘Maaf Reina, aku tak ingin dikhawatirkan saat ini.’

Disentuh kepalanya yang terasa sakit. Dipijat pelipisnya kuat, ia memang kurang sehat saat ini. Tubuhnya lelah dan kurang istirahat mengurus festival orientasi. Istirahat diruang kesehatan tak cukup membuatnya lebih baik.  ‘Jangan terulang Changmin, kau harus kuat! Lakukan pidato dengan baik, jangan seperti dulu.’

**

“Wah sudah ramai!!” pekik Junsu. Pandangannya berkeliling menatap keramaian di depan panggung. “Sepertinya club yang akan demontrasi sudah dibelakang panggung!!”

“Ne, sepertinya begitu. Lebih baik kau dan anggota club segera menyusul kesana!!”

Junsu mengangguk pelan. “Ne, kau benar Hyuna. Lebih baik kami segera kesana!! Hyung, noona, kami kebelakang panggung dulu ya!!” ujar Junsu cepat, sambil bergegas pergi bersama anggota club sepak bola.

“Ya!! Junsu!! Kalian jangan sampai menampilkan permainan yang buruk!!” teriak Yunho.

“Junsu!! Hwaiting!!!” teriak Hyuna, memberi semangat. Junsu hanya mengacungkan kepalan tangannya keatas membalas semangat yang diberikan padanya.

“Aishh semoga dia tak melakukan kesalahan saat tampil nanti.” Timpal Yunho.

Hyuna tersenyum kecil mendengar kerisauan kakaknya itu. “Oppa tidak usah khawatir, Junsu sudah berlatih keras untuk hari ini. Percaya saja padanya.”

“Aku harap begitu.” Diusapnya puncak kepala Hyuna.

“Akhh aku hampir lupa!! Kita belum bertemu dengan Jaejoong dan Heeyoung lagi!!” pekik Hyewon tiba – tiba, pandangannya berkeliling mencari keberadaan Heeyoung dan Jaejoong.

“Ne, kau benar. Kemana mereka? Bukankah kita sudah sepakat untuk bertemu didepan panggung jam empat sore!! Tapi kenapa mereka belum terlihat?” Yunho mengalihkan pandangannya mencari keberadaan sahabatnya itu.

Yunho terdiam, saat tersadar sesuatu hal. Dialihkan wajahnya menatap gadis yang kini diam tertunduk disampingnya. Ia hampir melupakan hal terpenting, adiknya- Hyuna.  Hyuna tengah tertunduk dalam, tangannya terkepal dan tampak bergetar. Perlahan ia rangkul Hyuna dari belakang kedalam pelukkannya. “Kau kuat Hyuna, karena kau adikku.” Ujarnya lirih, tepat ditelinga adiknya.

Hyuna tersentak saat dirasakan seseorang memeluknya dari belakang. Yunho tengah memeluknya erat. Perasaan tenang, mengalir ke tubuhnya. Ketegangan saat mendengar nama pria itu,seakan sirna. Digenggamnya pergelangan tangan Yunho yang tengah memeluknya. “Terima kasih oppa.”

**

‘Tidak bisakah kau tersenyum? Kumohon, jangan menampakan raut wajah seperti itu Jaejoong!!’

Heeyoung mendesah pelan, manik matanya tak lekang memperhatikan Jaejoong. Jaejoong hanya terdiam, tak mengucapkan sepatah katapun setelah ia bertanya tentang perasaannya pada gadis itu. Sikap Jaejoong membuatnya jengah, kalau memang Jaejoong hanya menganggap gadis itu adik, kenapa harus berwajah seperti itu? Kenapa raut wajahnya tampak tertekan? Apa banar dugaannya kalau Jaejoong-

Langkah Heeyoung terhenti. Dicengkramnya lengan Jaejoong yang berjalan didepannya. ‘Kumohon, tersenyumlah.’

Jaejoong menghentikan langkahnya saat terasa lengannya dicengkram. Ditolehkan wajahnya, menatap Heeyoung yang kini tengah tertunduk. Dilangkahkan kakinya mendekat kearah Heeyoung. “Ada apa? Kenapa tiba – tiba berhenti berjalan? Kita harus menemui Yunho dan Hyewon.”

Heeyoung mengakat wajahnya pelan. Digerakkan tangannya menyentuh wajah Jaejoong. “Aku.. aku… ingin kau-“

“Ya!! Heeyoung!! Jaejoong!!”

Heeyoung tersentak, diturunkan tangannya cepat dari wajah Jaejoong. Dialihkan wajahnya kearah suara yang meneriaki namanya dan Jaejoong.

“Akhh itu Hyewon.”

“Ne, itu Hyewon.” Matanya menatap Hyewon yang tengah melambaikan tangan kearahnya dan Jaejoong.

“Kajha, kita kesana!!”

Dilihatnya Jaejoong berjalan terlebih dulu kearah Hyewon, diikutinya Jaejoong pelan. Seketika langkahnya terhenti, saat tubuhnya terantuk punggung Jaejoong.

“Eh? Kenapa berhenti?” dilangkahkan kakinya kesamping Jaejoong. Di tatapnya Jaejoong, rahang pria itu menegang. “Ada apa?” disentuhnya Jaejoong pelan.

Jaejoong tak bergeming. Heeyoung mengikuti arah pandang Jaejoong, pria itu tengah menatap gadis yang berdiri tak jauh dari Hyewon. Kini ia mengerti kenapa Jaejoong menampakan raut wajah seperti itu. Dihelanya napas berat, perlahan ia genggam jemari Jaejoong lembut.

Jaejoong sedikit terkesiap saat dirasakan jemarinya digenggam. Ditolehkan wajahnya, tampak Heeyoung yang tersenyum kearahnya. Dirasakan genggaman Heeyoung semakin menguat di jemarinya.

“Hei, jangan berwajah seperti itu. Mereka akan curiga kalau kau tampak aneh seperti ini.”

Jaejoong terdiam. Perlahan senyum terlukis dibibirnya. “Ne, kau benar.”

**

“Aishh kalian kemana saja? Sebentar lagi acara utamanya dimulai.”

Heeyoung terkekeh pelan, menjawab pertanyaan Hyewon. “Maaf, tadi kami terlalu lama berkeliling sampai lupa janji bertemu didepan panggung dengan kalian. Ya kan Jaejoong?” ditolehkan wajahnya kearah Jaejoong.

“Ne, maaf membuat kalian menunggu lama. Tapi acaranya belum mulai kan?”

Yunho mengangguk pelan. “Ne, acaranya belum mulai.” Yunho sedikit meringis saat Hyuna menggenggam tangannya kencang. Ditolehkan wajahnya cepat kearah adiknya itu.

Hyuna terdiam. Kepalanya terasa penat, rasa sesak itu kembali menghimpit napasnya. Digenggamnya lengan Yunho kuat. ‘Jung Hyuna!! Tenangkan dirimu!! Kau telah melepasnya kan? Jadi jangan bersikap seperti ini!!’ Dihirupnya napas dalam, menenangkan hatinya. ‘Tersenyum Hyuna!! Kau harus tersenyum!!’

“Akhh bukankah kau Hyuna? Adiknya Yunho kan?”

Hyuna menoleh cepat. “Ne, aku Hyuna. Adiknya Yunho oppa.”  Bibirnya mengulaskan senyum. “Senang bertemu dengan onnie lagi.” Dilangkahkan kakinya kearah Heeyoung, badannya membungkuk sekilas.

Heeyoung  tersunyum tipis menatap Hyuna. “Ne, aku juga senang bertemu denganmu.”

Hyuna mengalihkan pandangannya kearah pria yang berdiri disamping Heeyoung. Jaejoong. Pria itu hanya terdiam menatapnya dengan raut wajah yang sulit ia jabarkan, tapi bibir pria itu terlihat berusaha mengulas senyum untuknya. ‘Kenapa kau menampakan wajah seperti itu oppa?’

Hyuna kembali tersenyum, dengan cepat ia rangkul pergelangan Jaejoong. “Aishh ternyata Jaejoong oppa juga datang!! Aku pikir oppa tidak datang!! Kenapa tidak menelponku kalau oppa datang?” dikerucutkan bibirnya, seolah tampak kesal karena tak mengetahui kedatangan Jaejoong.

Jaejoong terdiam menatap Hyuna yang kini tengah menatapnya. Diraskan tangan gadis itu sedikit gemetar, memeluk pergelangan tangan kirinya. Sesak. Ia benci dirinya saat hatinya terasa sesak jika berhadapan atau memikirkan Hyuna. Entah kenapa ia merasa dirinya melemah.

‘Kenapa? Kenapa rasanya begitu menyesakkan Hyuna? Kenapa hatiku menjadi begitu sesak hanya dengan mengingat atau memandangmu?’

Jaejoong tahu, gadis itu tampak berusaha bersikap biasa padanya, walaupun ia tahu Hyuna tampak menahan tangisnya kini. Karena ia tahu perangai gadis itu, ia lah yang paling mengenal sosok Hyuna melebihi siapapun! Tapi, entah kenapa kini ia tak yakin benar – benar mengenal  gadis itu, ia tak mengenal Hyuna yang menyatakan cinta padanya.

Perlahan disentuhnya puncak kepala Hyuna lembut. “Maaf, aku tidak menelponmu. Aku pikir, akan mengganggu waktumu berdua dengan kekasihmu Hyuna.” Bibirnya mengulas senyum.

Jaejoong terpaku saat raut wajah Hyuna menegang dan memerah, pelupuk mata gadis itupun mulai tergenang cairan bening. Dapat ia rasakan pelukan gadis itu dilengannya mengendur. ‘Hyuna, kau-‘

Hyuna menundukkan wajahnya cepat, menyeka airmatanya yang tak dapat ia tahan. Yang ia tahu kini, ia tak bisa menahan perasaannya. Ia ingin menangis, menghilakan rasa sakit yang menyesakan jiwanya. ‘Kenapa seperti ini? Kenapa begitu sulit menghilangkan rasa ini?’

Hyuna mundur selangkah, melepaskan pelukannya dilengan Jaejoong. Hyuna terkekeh pelan. Diangkat wajahnya cepat. “Ne, kau benar oppa. Itu akan sangat mengganggu!! Tapi setidaknya kau harus tetap menghubungiku!!” kembali bibirnya memaksakan senyum, menutupi rasa sakit yang menggerogoti hatinya semakin dalam. Dan ia benci untuk tersenyum saat ini.

Yunho terdiam, matanya menatap Jaejoong dan Hyuna bergantian. Dihelanya napas berat. Dapat ia tangkap luka diwajah sahabat baiknya itu saat melihat adiknya. ‘Kau benar – benar bodoh Kim Jaejoong!! Sampai kapan kau akan bersikap seperti itu?’

Yunho terkesiap saat Hyuna menoleh dan menatapnya. Adiknya itu kembali tersenyum dan berjalan pelan kearahnya. ‘Tetaplah tersenyum Hyuna meskipun hatimu terasa sakit dan kau ingin menangis.’

“Akhh sepertinya acaranya utamanya sudah dimulai ya!! Lihat MC sudah naik keatas panggung!!” ujar Hyuna cepat. Sembari berjalan kesamping Yunho meninggalkan Jaejoong yang masih mematung, tangannya menunjuk kearah panggung.

Yunho mengangguk pelan. “Ne, kau benar. Acaranya sudah mulai!!”

“Wah sepertinya akan seru sekali!!” pekik Hyewon antusias, matanya menatap MC yang tengah membacakan susunan acara.

Heeyoung menatap Jaejoong yang masih terdiam diposisinya. Mungkin pria itupun tak menyadari Hyuna sudah pergi meninggalkannya. Heeyoung mendesah pelan, diraihnya jemari Jaejoong.

“Hei, acaranya sudah mulai. Sampai kapan kau akan terdiam seperti itu?” Ditariknya Jaejoong pelan tuk berdiri sejajar dengan Yunho, Hyewon dan Hyuna yang kini tengah menatap panggung.

Jaejoong terkesiap. Ia tersenyum menatap Heeyoung. “Akhh maaf aku tak sadar kalau acaranya sudah mulai.”

**

“Changmin, benar kau tak apa – apa?”

Changmin mengangkat wajahnya pelan. Menatap gadis yang tampak begitu mengkhawatirkannya. Napasnya memburu, kepalanya terasa penat. Pandangannya terasa kabur. ‘Shim Changmin, kuatkan dirimu!’

“Ne, aku tak apa – apa. Kau tak usah khawatir Reina.” Changmin tersenyum tipis, berharap gadis  didepannya akan sedikit tenang dan tak mengkhawatirkannya.

Reina terdiam. Ia benci dirinya yang hanya terdiam melihat Changmin yang tak sehat. “Tapi Changmin, aku-“

“Sungguh aku baik – baik saja. Kau tak perlu khawatir.” Kembali ia tersenyum,tuk mengelabui Reina. Walaupun ia tahu Reina tak bisa dibohongi semudah itu, sejak kecil Reina lah yang paling mengerti dirinya. Bahkan Reina pun tahu gadis yang dicintainya.

Reina menghela napas berat. “Shim Changmin aku tahu, kau tak sehat saat ini!! Dan aku-“

“Ya!! Changmin bersiap!! Sekarang kau harus memberikan pidato penutupan!!”

Reina memalingkan wajahnya cepat kearah Kyuhyun yang berteriak memanggil Changmin. Bibirnya berdecak. “Ya!! Cho Kyuhyun!! Aku yang akan-“

“Kau tak perlu khawatir, aku baik – baik saja.” Sela Changmin cepat, sambil beranjak bangun dari duduknya dan naik keatas panggung.

Reina terbelalak, saat Changmin telah naik keatas panggung. “Ya!! Shim Changmin!!” pekik Reina. “Aishhh kenapa kau selalu memaksakan dirimu.” Ditatapnya Changmin yang kini telah berdiri diatas panggung, bersiap memberikan pidato penutupan.

“Kenapa kau tak pernah mau berbagi lelahmu denganku? Kenapa?” matanya menatap Changmin lekat.

**

Changmin terdiam. Rahangnya menegang, matanya menatap gadis dan pria itu yang berdiri berdampingan. Bahkan mereka tengah saling berpandangan. ‘Kenapa mataku selalu bisa menemukanmu begitu mudah bahkan dikaramaian seperti ini Hyuna? Tapi setiap kali aku melihatmu, kau selalu bersamanya.’

Changmin menggeleng pelan. Dihirupnya napas dalam, menenangkan hatinya. ‘Tenang Shim Changmin!! Kau harus berpidato sekarang!’

Kembali dihirupnya napas dalam. “Tak terasa waktu orientasi cepat berlalu. Walau berakhir, telah tercipta sebuah kenangan yang mungkin takkan terlupakan terutama bagi para siswa baru. Banyak hal yang telah terjadi tapi-“

Changmin terdiam. Matanya beradu pandang dengan gadis itu. Gadis itu menatapnya penuh. Seketika kepalanya kembali sakit, napasnya sesak seolah oksigen menolak masuk ke paru – parunya. Pandangannya kabur, bahkan wajah gadis itu seakan menghilang dan semuanya berubah menjadi gelap.

**

“Eh!! Bukankah pria itu kekasihmu Hyuna?”

Hyuna terdiam, menatap lurus Changmin yang naik keatas panggung. Tak ia hiraukan pertanyaan Hyewon yang terlontar padanya. Dipandangnya Changmin lekat.

“Benarkan pria itu kekasihmu yang bertemu di kafe waktu itu? Wah ternyata kekasihmu seorang ketua osis!!!”

Hyuna menoleh pelan kearah Hyewon yang berdiri di samping Yunho. “Akh dia.. dia-“ Hyuna tergagap, entah apa yang harus ia jawab. Mengiyakan kalau Changmin kekasihnya dan kembali berbohong. “Akh dia-“

“Kau benar Hyewon, dia kekasihnya Hyuna.”

Hyuna menoleh cepat kearah Jaejoong yang berdiri disampingnya. Jaejoong tengah tersenyum kearahnya. Hyuna terpaku, hatinya tertikam. Sangat sakit memandang Jaejoong yang tersenyum menatapnya, terlebih pria itu baru saja mengiyakan pertanyaan Hyewon tentang hubungannya dengan Changmin.

Jaejoong menatap Hyuna tepat dimanik kecoklatan gadis itu. Mata gadis itu tampak berkaca – kaca. Bibir gadis itupun bergetar, menahan gejolak yang membuncah dihatinya. Dan ia tahu, Hyuna merasa tersakiti dengan perkataannya. Apa yang ia katakan adalah fakta, bahwa Hyuna telah memiliki kekasih. Tapi kenapa hatinya terasa sakit mengatakan fakta itu?

“Benarkan perkataanku, kalau Changmin kekasihmu Hyuna?”

Dialihkan wajahnya cepat, kembali menatap Changmin yang tengah memberikan pidatonya. Digigit bibir bawahnya pelan menahan cairan bening dimatanya agar tak jatuh, tangannya terkepal. “Ne, Changmin memang kekasihku.”

Jaejoong terpaku, menatap Hyuna yang kini menatap Changmin. Senyum getir terulas di bibirnya. Dadanya terasa sesak, dibanding dengan Hyuna mungkin ialah yang paling merasa sakit. Walau ia tak tahu mengapa. Ia alihkan wajahnya menatap panggung. Dapat ia rasakan tangan kanannya digenggam, ditolehkan wajahnya tampak Heeyoung tengah menatapnya dengan senyum menghias bibir gadis itu.

Jaejoong hanya tersenyum simpul, kemudian kembali menatap panggung.

Hyuna menatap Changmin lekat. Tangan kirinya menggenggam jemari Yunho erat, kakaknya membalas genggaman tangannya. Dengan menggenggam jemari Yunho memberinya sedikit ketenangan. ‘Terima kasih, Yunho oppa.’

Hyuna terkesiap saat matanya beradu pandang dengan Changmin. Ia ingin tersenyum kearah Changmin tapi bibirnya terasa kelu tuk digerakan. Ditatapnya Changmin sendu, matanya menangkap kejanggalan. Entahlah, hanya saja Changmin tampak lebih pucat dibanding Changmin yang ia temui di ruang kesehatan tadi. Napas Changmin pun tampak naik – turun. Matanya terbelalak saat tubuh Changmin limbung dan jatuh tergeletak diatas panggung.

“Omo!! Changmin!!” pekiknya.

Tanpa sadar ia berlari kearah panggung. Entah kenapa ia merasa kalut melihat Changmin yang tengah dibawa turun dari panggung. Yang ia tahu, ia harus melihat keadaan Changmin. Mestinya dari awal ia tidak meninggalkan Changmin di ruang kesehatan. Ada penyesalan di hatinya melihat keadaan Changmin.

‘Apa panasmu bertambah sampai kau pingsan? Apa kau baik – baik saja, Changmin?’

**

Jaejoong mencibir pelan menatap Hyuna yang berlari pergi tuk melihat keadaan Changmin. Rasa sakit semakin menghujamnya kuat. Dan ia tak ingin Hyuna berlari pergi meninggalkannya. Rasanya ia ingin mencegah kepergian gadis itu. Aneh. Kenapa rasa tak ingin kehilangan kembali hadir? Bukankah sudah semestinya gadis itu pergi darinya tapi kenapa begitu sakit?  Jauh lebih sakit dibanding ia melihat gadis itu bersama Changmin tadi. Melihat Hyuna yang berlari pergi, berkali – kali lipat lebih sakit. Dan ia tak suka dirinya yang merasakan perasaan itu. Sangat tidak suka.

‘Kau pergi Hyuna.. kau benar – benar pergi meninggalkanku.’

Heeyoung mengencangkan genggaman tangannya di jemari Jaejoong. Walau ia tahu pria itu tak menyadari genggamannya. Diangkat wajahnya pelan, manatap Jaejoong yang masih terus mencari keberadaan Hyuna yang telah menghilang diantara keramaian.

‘Kau terus mencarinya. Dirimu tak pernah lepas tuk mencarinya. Apakah ini yang kau maksud rasa sayang seorang kakak pada adiknya? Atau harus ku ubah menjadi cinta seorang pria pada seorang gadis, Jaejoong?’

**

Reina membeliak saat Changmin terjatuh dan pingsan. Dengan cepat ia berlari keatas panggung bersama anggota osis yang lain. Beberapa orang mengangkat tubuh Changmin dan membawanya menuruni panggung.

“Aishh sudah ku duga dia akan seperti ini!!” runtuk Reina, sembari mengikuti Changmin yang dibawa ke ruang kesehatan.

“Akh Kyuhyun kau jangan ikut, urus kekacauan yang terjadi!!” pinta Reina. Kyuhyun mengagguk paham dan bergegas kembali ke panggung menenangkan kericuhan yang dimulai karena pingsannya Changmin.

“Aishh kenapa kau selalu memaksakan dirimu Shim Changmin!!”

**

Reina mendesah pelan, tangannya memasangkan kompres dingin di kening Changmin. Ia sedikit terperajat saat Changmin mencengkram lengannya kuat.

“Changmin, kau sudah sadar?”

Dipandangnya Changmin lekat. Ia sangat khawatir dengan keadaan Changmin. Ia tahu Changmin terlalu memaksakan dirinya dan tak memperdulikan kesehatannya.

“Jangan pergi… kumohon jangan pergi..”

Reina tersenyum kecil, mendengar gumaman Changmin. Changmin masih terpejam, keringat mengalir membasahi wajah pria itu. Changmin terlihat resah dan badannya panas. Bibir Changmin terus menggumam kalimat yang sama.

“Ne, aku tak akan pergi meninggalkanmu.” Sembari menyeka keringat Changmin dengan handuk kecil.

“Jangan pergi… tetaplah disisiku… Hyuna.” Kembali terdengar gumaman dari bibir Changmin.

Reina membeku, mendengar kata terakhir yang digumamkan Changmin. Reina mendengus, tangannya terkepal. Dialihkan wajahnya dari Changmin. “Aishh kenapa kau selalu memikirkan gadis itu? Bahkan sekarang kau menyebut namanya!!” bibirnya berdecak kesal.

Reina menoleh cepat saat pintu ruang kesehatan dibuka kasar. Bibirnya mencibir. “Ya!! Jung Hyuna untuk apa kau datang hah?”

“Apa… apa- Changmin baik – baik saja?” tanyanya. Napasnya tersengal akibat berlari ke ruang kesehatan tadi. Dilangkahkan kakinya kearah Changmin yang terpejam di ranjang. Langkahnya terhenti saat tangannya ditarik kencang, membuat tubuhnya mundur ke belakang.

“Lebih baik kau pergi dari sini, Jung Hyuna!! Kau tidak dibutuhkan disini!!” ujar Reina sedikit berteriak, tangannya menarik Hyuna keluar ruang kesehatan.

Hyuna menepis tangan Reina cepat. Tapi Reina kembali menariknya keluar, melepaskan lengannya kasar  dan membuatnya terhempas jatuh. “Cepat kau pergi dari sini!! Kau tidak ada hubungannya dengan Changmin!!!” ujar Reina, dingin.

Hyuna berdiri. Ditatapnya Reina sengit. “Ya!! Shin Reina!! Apa – apaan kau ini hah?”

Reina mencibir kesal, matanya menatap Hyuna tajam. “Ya!! Apa kau tak paham dengan perkataanku hah? Aku bilang pergi!! Dan jangan pernah kau ganggu Changmin ataupun mencarinya lagi!!” didorongnya tubuh Hyuna.

Hyuna meringis, saat tubuhnya terantuk dinding. Ditatapnya Reina lekat, tergambar jelas ketidaksukaan gadis itu padanya. Ia ingat saat ia mencari Changmin di gedung kelas X waktu itu, Reina memperlakukan hal yang sama padanya bahkan gadis itu tak menyampaikan pesannya untuk Changmin, membuatnya menunggu Changmin sampai larut.

“Kau membenciku??”  tanyanya, walau ia tak begitu yakin. Karena seingatnya ia tak pernah ada masalah dengan gadis itu.

Reina terkekeh. Ditatapnya Hyuna tajam, didekatkan wajahnya kearah telinga gadis itu. “Ne, aku sangat membencimu, Jung Hyuna!!” bisiknya.

Hyuna terpaku, matanya membulat. Reina memicingkan matanya dengan tangan terlipat didepan dada.

“Kenapa… kenapa- kau.. membenciku? Apa salahku padamu?”

Reina mencibir. Dihempaskan punggung Hyuna ke dinding, tangannya menekan bahu Hyuna kuat. “Kau tanya apa salahmu hah?? Salahmu adalah kau telah MEREBUT HATI PRIA YANG KUCINTAI!!! KAU BAHKAN TIDAK TAHU BAGAIMANA RASANYA PRIA YANG KAU CINTAI TIDAK MENCINTAIMU!!”

Napasnya naik – turun menahan emosi yang berkecamuk di dadanya. Ia sangat benci gadis dihadapannya itu. Seandainya gadis itu tak pernah masuk didalam hidupnya dan Changmin mungkin ia bisa menyatakan perasaannya pada Changmin dan tak berpura – pura menjadi teman masa kecil yang baik di depan pria itu.

Dilepaskan tekanannya di bahu Hyuna. Gadis itu tampak kaget dan terduduk, memandangnya miris.

“Sekarang kau mengerti kan? Jangan pernah kau menggangu atau mencari Changmin lagi!!” dilangkahkan kakinya pergi meninggalkan Hyuna dan masuk ke ruang kesehatan.

Hyuna terpangu, menatap pintu ruang kesehatan yang tertutup. Air mata mengalir, membasahi pipinya. Bibirnya terisak kencang. Tangannya menopang tubuhnya, untuk berdiri. Bukan hanya hati, tubuhnya pun terasa sakit. Baru pertama kali ia diperlakukan sekasar itu.

Dilangkahkan kakinya kearah pintu ruang kesehatan. Matanya terpejam, airmatanya semakin mengalir. Ia terduduk disamping pintu. Kakinya ditekuk, ditelungkupkan wajahnya diantara kedua lututnya, meredam isak tangisnya.

“Aku mengerti… sangat mengerti perasaanmu Reina.. Saat pria yang kita cintai, tak mencintai kita. Karena aku.. merasakan hal yang sama.” Ujarnya lirih.

**

“Yah walaupun terjadi insiden kecil tadi tapi club sepak bola berhasil menampilkan demonstarasi yang bagus! Tapi kenapa hanya Hyewon noona yang terlihat menikmati acara. Kenapa dengan kalian bertiga? Lalu mana Hyuna? Mestinya ia bersama kalian kan?”

Yunho merangkul bahu Junsu cepat. “Kami semua menikmati acaranya, Junsu!! Tadi kau tampil keren sekali!! Sungguh!!” Yunho terkekeh pelan, mencairkan suasana yang terasa hambar.

Yunho tahu Jaejoong bersikap seperti itu sejak melihat Hyuna berlari pergi kearah Changmin. Tapi entah kenapa Heeyoung juga menampakan sikap yang sama, bahkan gadis itu tengah menggenggam jemari Jaejoong erat. Sebenarnya ada apa dengan mereka berdua? Apa Heeyoung tahu tentang perasaan Jaejoong? Digelengkan kepalanya pelan, ia rasa gadis itu tidak tahu.

“Ne, benar kata Yunho tadi penampilanmu keren sekali Junsu!!!” timpal Hyewon antusias.

“Lalu dimana Hyuna? Kenapa aku tak melihatnya?” diliriknya Jaejoong sekilas. Kakaknya itu hanya diam, matanya menerawang menatap atap dunia yang mulai tampak kemerahan. ‘Kau kembali menunjukan sikap seolah tidak tahu hyung!! Kau tahu hyung, sikapmu menunjukan jelas perasaanmu!!”

“Eh? Hyuna, dia-“ Yunho tergagap, matanya melirik kearah Jaejoong. Bibirnya tak kuasa berujar tentang adiknya saat ini, terlebih Jaejoong bersikap seperti itu. “Hyuna, dia-“

“Hyuna menemani Changmin di ruang kesehatan!!” sela Jaejoong cepat, matanya menatap Junsu.

Junsu menoleh cepat kearah Jaejoong yang kini menatapnya. Junsu menyerengit. Hyuna menemani Changmin? Apa ia tak salah dengar? “Hyuna menemani Changmin? Bagaimana bisa?”

Jaejoong mengalihkan wajahnya dari Junsu. Pita suaranya seakan tercekat menjawab pertanyaan Junsu. Jawaban yang akan ia lontarkan, akan meninggalkan rasa sakit yang lebih dalam. “Hyuna dan Changmin-“

“Sudah sewajarnya Hyuna menemani Changmin. Hyuna kan kekasihnya Changmin!! Lagipula siapapun pasti akan panik melihat kekasihnya pingsan didepan matanya kan? Lagipula Hyuna dia-”

Yunho menarik Hyewon ke belakang tubuhnya, berharap gadis itu tak melanjutkan perkataannya tentang hubungan Hyuna dan Changmin. Yunho terkekeh pelan menatap Junsu yang tampak terkejut mendengar hal itu. “Hahahha ya Hyuna dia-“

“MWO? CHANGMIN DAN HYUNA MEREKA BERDUA-“ Junsu berteriak, matanya membulat. Bibirnya tak sanggup meneruskan perkataannya. Ia tak percaya dengan hal yang baru ia dengar. Changmin dan Hyuna-. Bagaimana bisa? Sejak kapan ada hubungan seperti itu antara Hyuna dan Changmin? Kenapa Hyuna tak mengatakan apapun padanya? Kenapa?

“Ne, Hyuna dan Changmin berpacaran!!” ujar Jaejoong meyakinkan Junsu, mungkin lebih tepatnya meyakinkan dirinya sendiri tentang Hubungan Hyuna dan Changmin.

Junsu mencibir pelan. Dibalikkan tubuhnya pergi. “Aku tak percaya!! Aku akan ke ruang kesehatan dan menanyakan langsung pada Hyuna!!”

“Ya!! Kim Junsu!! Untuk apa hah? Hyuna sudah mengirim pesan akan pulang telat, karena menemani Changmin!!!” ujar Yunho, ditariknya lengan Junsu cepat.

“Tapi hyung!! Hyuna dan Changmin, mereka-“

“Sudahlah!! Lagipula hal itu tidak ada hubungannya denganmu kan, Junsu? Lebih baik kita pulang sekarang!!”

Junsu terdiam. Dihelanya napas berat. Perkataan Yunho benar, ia tak ada hubungannya dengan hal itu! Untuk apa ia memusingkan hubungan Hyuna dan Changmin? Ia hanya sahabat sejak kecil dari seorang Jung Hyuna. Yah hanya sahabat tak lebih! Tapi kenapa ia merasa dikhianati oleh Hyuna?

“Ne, kau benar hyung!! Lebih baik aku pulang!!” dibalikkan tubuhnya, berjalan pergi.

Yunho mendesah pelan, menatap kepergian Junsu. Ditolehkan wajahnya menatap Jaejoong. Kembali ia mendesah berat, melihat raut wajah sahabatnya itu. ‘Aishh Kim Jaejoong!! Perasaanmu kini tergambar sangat amat jelas! Sampai kapan kau akan bersikap seperti itu hah?’

“Jaejoong, aku akan mengantar Hyewon pulang. Kau yang antar Heeyoung pulang kan?”

Jaejoong menoleh pelan kearah Yunho, kepalanya mengangguk pelan. “Ne, aku akan mengantarnya.”

“Baiklah kalau begitu. Aku dan Hyewon duluan.” Pamitnya. “Kajha Hyewon, aku akan mengantarmu.” Sembari menarik Hyewon pergi.

Jaejoong menoleh kearah Heeyoung, wajah gadis itu tertunduk sambil terus menggenggam tangannya. Ia tidak tahu, kenapa Heeyoung terus menggenggam tangannya. Setidaknya ia sedikit lebih tenang saat gadis itu menggenggam jemarinya. “Kajha! Aku akan mengantarmu pulang.”

**

Changmin mengerjap pelan. Cahaya berpendar, masuk diantara kelopak matanya. Ditolehkan kepalanya pelan, matanya menatap sekeliling.

“Apa ini diruang kesehatan?” gumamnya pelan.

Reina berdiri cepat, bangkit dari duduknya. Matanya menatap Changmin. “Akhh akhirnya kau sadar.” Bibirnya menyunggingkan senyum.

“Reina? Kau Reina?”

Reina mengangguk cepat. “Ne, aku Reina! Kenapa? Apa ada yang terasa sakit? Aishh kau tahu, aku sangat panik melihatmu pingsan tadi!!” dikerucutkan bibirnya, matanya menatap Changmin kesal.

Changmin mencoba bangun, menopang tubuhnya dengan kedua tangannya tuk bersandar di sandaran ranjang.

Reina dengan sigap membantu Changmin. Ia terduduk di tepi ranjang, menatap Changmin yang tengah memijat pelipisnya.

“Kau pusing?” matanya menatap Changmin khawatir.

“Sedikit pusing. Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa disini? Bagaimana acaranya tadi?”

Reina  mendesah pelan. Kau pingsan saat pidato tadi. Acaranya sudah diurus Kyuhyun dan yang lain, kau tak perlu khawatir lagipula mereka akan kesini sebentar lagi. Lebih baik kau istirahat saja.”

Changmin terdiam. Dialihkan wajahnya menatap jendela ruang kesehatan yang terbuka. Dihelanya napas berat.

“Kenapa? Apa ada yang kau pikirkan?”

Changmin menggeleng pelan. “Tidak, aku hanya kecewa pada diriku sendiri.”

Reina berdecak. Digenggamnya lengan Changmin cepat. “Aishh kau ini, selalu seperti itu!! Terlalu memaksakan dirimu, bahkan kau tidak memperhatikan kesehatanmu sampai kau pingsan tadi!! Kau sudah berusaha yang terbaik, jadi tak perlu kau kecewa pada dirimu!”

Changmin tersenyum mendengar perkataan Reina. “Terima kasih, Reina.”

“Ne.” Bibirnya mengulas senyum lembut.

“Akhh boleh aku bertanya padamu?”

Reina mengangguk cepat. “Ne, mau bertanya apa?”

“Tadi aku, samar – samar mendengar suara Hyuna. Jung Hyuna, apa ia tadi kemari?”

Seketika rahang Reina menegang, dialihkan wajahnya dari Changmin. Bibirnya berdecak pelan. ‘Kenapa kau berharap gadis itu datang? Padahal sudah ada aku yang menemanimu.’

“Tidak. Tidak ada yang datang. Hanya aku sendiri yang menemanimu dari tadi.” Bohongnya. Ia tak mau Changmin tahu gadis itu datang, bahkan mengkhawatirkan Changmin. Ia tak ingin Changmin semakin jauh darinya, semakin berpaling darinya dan akhirnya pergi meninggalkannya. Ia tak mau hal itu terjadi.

Alis Changmin terpaut. Ia yakin, tadi mendengar suara Hyuna. Apakah hanya pikirannya saja? “Benarkah?”

Reina mencibir. “Ne, tentu saja!! Hyuna tadi sudah pulang dengan Jaejoong sunbae dan Yunho sunbae!! Jadi kau jangan-“ perkataannya terhenti saat pintu ruang kesehatan terbuka cepat. Tampak seorang pria memasuki ruangan.

“Ya!! Shim Changmin kau sudah sadar? Apa kau sudah baikan?” sembari berjalan mendekati Changmin dan Reina.

Changmin tersenyum menatap sahabatnya itu. “Ya!! Cho Kyuhyun, aku baik – baik saja. Kau lihat sendirikan?”

Kyuhyun terkekeh pelan. “Ne, kau sudah tampak lebih baik.” Diambilnya posisi duduk disamping Reina.

“Kau sendirian saja? Mana anggota osis yang lain?” tanya Reina. “Katanya kalian akan kesini setelah semua selesai.”

“Akh aku hampir lupa!! Aku tidak sendiri, tadi aku bersama seseorang yang ingin melihat keadaanmu Changmin!!” pekiknya, dengan cepat ia berajak bangun dari duduknya dan berjalan kepintu.

Changmin menyerengit bingung. “Siapa yang ingin melihat keadaanku?”

Kyuhyun menatap gadis yang hanya terdiam didepan pintu. Gadis yang ia temui, saat akan masuk keruang kesehatan. Gadis yang hanya terduduk didepan pintu tanpa berani masuk kedalam. “Kenapa diam saja disitu? Kenapa tidak masuk bersamaku?”

Gadis itu kini menundukkan kepalanya dalam. Dihelanya napas dalam. “Ya!! Ayo masuk!!” ditariknya lengan gadis itu masuk.

Changmin terbelalak menatap gadis yang dibawa masuk Kyuhyun. Perasaan senang menelusup ke hatinya melihat gadis itu. “Hyuna?”

**

“Apa kau mau mampir?”

Jaejoong menggeleng pelan, bibirnya mengukir senyum tipis. Matanya menatap sendu gadis di depannya. “Tidak, terima kasih. Lain kali saja.”

“Benar? Tidak mau mampir ke rumahku?” ajak gadis itu sekali lagi.

Jaejoong mengangguk. “Ne, lain kali saja aku akan mampir, Heeyoung.”

Heeyoung mengangguk paham. “Baiklah, tapi lain kali kau-“

“Akhh Heeyoung kau baru pulang rupanya.”

Heeyoung menoleh cepat kearah pintu rumahnya yang terbuka, seorang pria berjalan keluar dari rumahnya. Dialihkan wajahnya kembali menatap Jaejoong yang tampak terkejut melihat kehadiran pria itu dirumahnya.

Jaejoong menatap pria yang keluar dari rumah Heeyoung lekat. Kenapa pria itu ada dirumah Heeyoung? Bagaimana bisa? “Yoochun sunbaenim?”

“Akhh kau salah satu anggota club basket yang baru kan? Rupanya kau berhubungan baik dengan Heeyoung.” Ujar Yoochun yang kini berdiri diantara Jaejoong dan Heeyoung.

“Ne, sunbaenim aku anggota baru di club.”

Yoochun menepuk bahu Jaejoong pelan. “Aku harap kau pria baik yang akan menjaga Heeyoung dan tak akan menyakitinya.” Bibirnya mengulas senyum. “Jangan seperti pria lain yang hanya bisa menyakiti hatinya.” Matanya beralih menatap Heeyoung yang mencibir mendengar perkataannya.

Jaejoong terkesiap. “Eh? Aku tidak ada hubungan seperti itu dengan Heeyoung. Kami hanya teman.”

“Aishh tak perlu sungkan seperti itu di depanku!! Akhh aku harus pergi, aku duluan.” Dilangkahkan kakinya pergi.

Jaejoong kembali menatap Heeyoung. “Ternyata kau memang mengenal dekat Yoochun sunbae.”

Heeyoung mendesah berat. Dialihkan wajahnya dari Jaejoong. “Tidak, aku tidak mengenal pria seperti itu.”

Alis Jaejoong terpaut. Benarkah apa yang dikatakan Heeyoung? Padahal waktu itu ia pernah melihat Yoochun memeluk Heeyoung diruang auditorium. Bahkan ia melihat gadis itu menangis karena Yoochun. Apa benar tidak ada hubungan yang dekat antara keduanya? “Benarkah?”

“Bukankah kau tadi ingin cepat pulang? Kalau kau banyak bertanya, aku akan memaksamu mampir ke rumahku.”

Tampak Heeyoung yang tak nyaman dengan pertanyaannya. Jaejoong terkekeh pelan. “Baiklah kalau begitu, aku pulang dulu. Sampai jumpa di kampus.” Dibalikkan tubuhnya. Kakinya berjalan masuk kedalam mobil. Dilajukan mobilnya meninggalkan rumah Heeyoung.

**

Jaejoong sedikit terperajat mendapati adiknya yang tengah tiduran di ranjangnya.

“Akhirnya kau pulang hyung. Aku menunggumu daritadi.”

Jaejoong menyerengit menatap adiknya. Tidak biasanya Junsu menunggu kepulangannya. “Apa ada yang kau ingin bicarakan denganku, Junsu?”

Junsu beranjak bangun, duduk ditepi ranjang. Matanya menatap Jaejoong lekat. “Ne, ada yang ingin kubicarakan denganmu,hyung. Ini tentang Hyuna dan Changmin.”

Continue…

thanks for read :D jangan jadi silent reader!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s