One More Chance part 1

Standar

Title: One More Chance

Lenght: 1 of ?

Author: Min

Plot: Flash back and flash forward.

Word: 6131

Disclaimer: Tokoh yang ada dalam FF ini adalah diri mereka sendiri. FF ini hanya khayalan, tak ada maksud apapun dalam FF ini. FF ini asli buatan saya yuuri66 © 2012

Note: FF ini akan ada flash back tapi tidak akan saya tulis ‘Flash Back’ . Saya harap saat membaca ff ini reader tidak akan bingung. Saya hanya memberi tanda dengan quote dan simbol saat penceritaan masuk ke flash back.

Fanfic ini ku buat tuk Jea. I hope u like this beb :)

***

Saat tak ada lagi kata yang dapat terucap. Saat kata tak mampu mengungkapkan makna. Saat hati dan kata saling bertolak. Saat cinta berubah menjadi benci. Saat masa lalu tak dapat diputar dan masa depan terlampau menyakitkan. Apakah yang terpendam akan terucap dan tersampaikan? Apakah saat itu kau akan kembali? Memberi kesempatan tuk mengungkapkan kata dari masa lalu yang terpendam. Apakah masih ada kesempatan tuk mengubahnya?

***

Mungkin tak ada lagi yang dapat di cinta selain dirimu. Mungkin hanya kau yang tercinta. Kau lah satu – satunya yang mampu mengalihkan dunia, sampai pikiran pun enggan beranjak darimu. Dan mungkin cinta ini tetap hanya untukmu. Walau waktu telah berlalu dan kau melupakan kenangan itu.

One More Chance part 1 – When We Meet Again

“Ee bbeun, kau akan menemaniku menjemput tunanganku di bandara kan?”

Ee bbeun menoleh pelan, menatap lurus gadis didepannya. “Aku malas, kau pergi saja sendiri Hiu Hwi” tolaknya halus, matanya kembali beralih membaca novel ditangannya.

Hiu Hwi mendesah gusar “Ya!! Kau tega membiarkanku seorang diri ke bandara hmm?” rajuknya, dihampirinya Ee bbeun yang berbaring diranjang sambil membaca novel.

Ee bbeun melirik Hiu Hwi sekilas, kemudian kembali fokus membaca novelnya. Hiu Hwi mengguncang tubuh Ee bbeun, merajuk berharap saudara sepupunya itu akan luluh.

“Ya~ Ee bbeun, kumohon temani aku ke bendara!! Aku malu kalau bertemu dengannya seorang diri besok!!”

Ee bbeun mendesah gusar, ditatapnya Hiu Hwi malas. “Ya! Kau kan akan menjemput tunanganmu! Tak perlu kau mengajakku, aku malah hanya jadi pengganggu besok! Aku tak mau kau mengacuhkanku, karena tunanganmu itu!!”

“Aku janji tak akan mengacuhkanmu!! Lagipula aku juga baru beberapa kali bertemu dengannya, aku masih canggung kalau bersamanya!! Kumohon temani aku besok!!” matanya menatap Ee bbeun penuh harap.

Ee bbeun mendesah singkat. Tak tega ia melihat wajah Hiu Hwi yang tampak memohon seperti itu. Yah dari dulu, ia paling tak bisa menolak kemauan sepupunya itu. Karena baginya, Hiu Hwi segalanya! Sepupunya itulah tempat berbagi keluh kesahnya, suka dan dukanya. Terlebih sejak orang tuanya tiada, hanya Hiu Hwi dan keluarganya yang begitu memperdulikannya.

“Baiklah, tapi aku tak mau kau acuhkan ya?”

Hiu Hwi mengangguk cepat. “Ne, tentu!!” dipeluknya Ee bbeun cepat. “Gomawo, kau memang yang terbaik!” di pererat pelukkannya pada Ee bbeun.

“Ne, cheonmaneyo.” dibalasnya pelukkan Hiu Hwi.

 ***

“Ee bbeun, apa aku sudah terlihat cantik?”

Ee bbeun tersenyum menatap Hiu Hwi yang tampak gugup, gadis itu tak henti menanyakan hal yang sama padanya sejak dirumah sampai di bandara. Bahkan Hiu Hwi terus merapihkan penampilannya.

“Cantik. Kau terlihat sangat cantik, dengan rambut panjang yang menjuntai indah dan padanan dress putih selutut ditambah aksen pita dirambutmu. Membuatmu tampak begitu mempesona.” sembari merapihkan pita Hiu Hwi yang sedikit miring. “Aku yakin tunanganmu tak kan berkedip melihat penampilanmu ini.” bibirnya menyunggingkan senyum tipis.

“Benarkah? Ia tak kan berkedip melihat penampilanku?”

Ee bbeun terkekeh kecil. “Ne, tentu saja! Bukankah apa yang kukatakan selalu benar?”

“Ne, aku harap ia akan terpesona dengan penampilanku.” garis bibir Hiu Hwi tertarik, membentuk lengkungan tipis. Ia tersenyum membayangkan tunangannya yang menatapnya kagum.

“Akhh tapi kenapa lama sekali? Padahal mestinya pesawatnya sudah tiba. Kenapa ia belum kelihatan ya?” pandangannya tertuju kearah pintu kedatangan, berharap menemukan tunangannya diantara para penumpang yang keluar.

“Ee bbeun, bantu aku mencarinya!! Aku tak menemukan sosoknya!!”

Ee bbeun beranjak bangun dari duduknya, matanya memandang kearah pintu kedatangan. “Aku tak tahu seperti apa wajah tunanganmu itu! Bahkan aku tak tahu siapa namanya. Bagaimana bisa aku membantumu mencarinya?” ditolehkan wajahnya menatap Hiu Hwi yang tampak cemas.

“Akhh itu dia!! Jaejoong oppa!! Oppa~” pekik Hiu Hwi tiba – tiba saat menemukan pria yang ia cari, tunangannya. Tangannya melambai kearah pria itu, bibirnya mengukir senyum senang.

“Pria itu tunanganku, Ee bbeun. Namanya Kim Jaejoong.” dilangkahkan kakinya cepat, kearah Jaejoong yang tampak berjalan kearahnya.

Ee bbeun terdiam, seketika tubuhnya membeku menatap pria yang tengah berjalan kearahnya. Akhh bukan kearahnya tapi kearah Hiu Hwi. Tubuhnya seakan terpaku, menatap pria itu. Kim Jaejoong. Pria yang ia pikir tak akan pernah ia temui lagi sejak tiga tahun yang lalu. Tapi hari ini, ia kembali bertemu dengan Jaejoong. Membuka kotak ingatan masa lalunya tentang pria itu, tentang pria yang pernah mengisi relung jiwanya.

‘Dia kembali… Kim Jaejoong kembali…’

§§§

Tahukah kau, kepergianmu meninggalkan luka yang mendalam dihati; merobek tiap sisinya menjadi berkeping.

Penyesalan pun selalu hinggap di kala memori itu hadir diantara angan.

 Untaian  kata yang terpatri di hati tak mampu terucap, menyisakan penyesalan yang teramat dalam.

“Ee bbeun, aku telah memutuskan tuk melanjutkan kuliah di Jepang sambil mempelajari bisnis keluargaku disana. Bagaimana menurutmu?

Eebeun terdiam, menatap pria didepannya. Apa yang tadi pria itu katakan? Pergi? Apa ia tak salah dengar? Pria itu bercandakan?

“Jaejoong sunbaenim, kau serius?” tanyanya, dipandangnya Jaejoong lekat. Berharap pria itu hanya bergurau.

Jaejoong mengusap puncak kepala gadis didepannya singkat. “Ne, aku serius! Aku ingin menekuni bisnis keluargaku dan kurasa menyusul orang tuaku ke Jepang pilihan yang tepat.”

Ee bbeun terdiam, menatap nanar pria didepannya. Tampak keseriusan yang terpancar jelas disorot mata pria itu.

“Tapi sunbaenim, kenapa tidak di Korea saja? Bukankah banyak universitas yang bagus disini? Kenapa harus ke Jepang?”

Jaejoong terkekeh pelan. Di sentilnya pelan kening Ee bbeun. “Aishh kau ini benar – benar bodoh!! Kan tadi sudah kubilang, karena bisnis dan orang tuaku di Jepang!!!”

“Tapi sunbaenim-”

“Aku mengerti, kau akan kehilanganku saat aku kuliah di Jepang kan?” goda Jaejoong. Entah kenapa ia selalu suka melihat wajah Ee bbeun yang tampak merengut.

“Ne, aku akan kehilanganmu sunbaenim…”

Jaejoong terdiam, mendengar perkataan yang terucap dari mulut Ee bbeun. Perkataan yang ia pikir takkan pernah ia dengar dari mulut gadis didepannya, Ee Bbeun.

Ee bbeun tertunduk dalam, tak kuasa ia tahan rasa sakit yang menusuk hatinya. Pelupuk matanya terasa panas, cairan bening mulai tergenang dan siap melesat turun. “Ne, aku akan sangat kehilanganmu Jaejoong sunbaenim…”

Jaejoong terpangu, perlahan ia gerakan tangannya kearah Ee bbeun berusaha menyentuh gadis didepannya itu. “Ee bbeun, aku-”

“Ne sunbaenim, aku akan merasa kehilanganmu… kehilangan orang yang selalu bertengkar denganku.”

Jaejoong berdecak kesal, menatap Ee bbeun yang tengah menjulurkan lidah kearahnya. Ia pikir, gadis itu benar – benar merasa kehilangannya tapi ternyata malah-. “Aishh~ Ya!! Kau-”

“Aishh sunbaenim pikir, aku akan sedih hah? Tentu saja tidak! Pria yang selalu mengusili dan bertengkar denganku akhirnya pergi, tentu saja aku merasa senang!!”

Jaejoong menghela napas berat, ditatapnya Ee bbeun lekat. “Aku pikir kau akan merasa sedih dan kehilangan saat aku pergi, ternyata aku salah.” bibirnya menyungging senyum getir. “Percuma aku berharap kau akan merasa kehilanganku.”

“Eh?”

“Mulai sekarang tak akan ada lagi yang mengusili dan bertengkar denganmu. Aku pergi.” diusapnya puncak kepala Ee bbeun singkat. Berlalu pergi meninggalkan gadis itu yang terpangu menatap kepergiannya.

‘Jangan pergi… kumohon.. Sejujurnya, aku tak ingin kau pergi….’

§§§

***

Ee bbeun hanya terdiam menatap pria didepannya. Pria itu tampak terkejut melihatnya, ada sorot tak percaya yang terlihat di manik kecoklatan pria itu. Jantungnya masih bereaksi, berdegup cepat tak terkendali setiap didekat pria itu sampai sekarang.

Bibirnya tersenyum tipis, mengulas senyum getir. “Aku Ee bbeun, sepupu Hiu Hwi tunanganmu. Senang bisa mengenalmu, Kim Jaejoong ssi.” tangannya terjulur kearah Jaejoong.

Jaejoong terdiam menatap uluran tangan didepannya, ditatap gadis didepannya yang tengah mengulaskan senyum untuknya. Tak ia sangka, ia akan kembali bertemu dengan gadis itu. Ee bbeun. Gadis yang ia pikir takkan pernah bisa ia lihat lagi sejak perpisahan waktu itu. Bahkan gadis itu seolah tak mengenal dirinya.

“Aku Kim Jaejoong, senang bisa berkenalan denganmu Ee bbeun.” dijabatnya uluran tangan Ee bbeun.

“Kalian berdua sudah saling berkenalan, kalau begitu kita pergi dari sini. Kajha oppa!” ujar Hiu Hwi, dikalungakan tangannya di lengan Jaejoong. Mengajak pria itu untuk pergi.

Jaejoong tersenyum tipis menatap tunangannya, Hiu Hwi. “Ne, kajha kita pergi!!” kakinya melangkah bersama Hiu Hwi meninggalkan hiruk pikuk bandara.

Ee bbeun, matanya menatap nanar sesosok sejoli yang berjalan didepannya. Luka dihatinya seolah bangkit dari tidur panjangnya, menatap punggung pria itu yang semakin menjauh pergi. Sama seperti saat pria itu berbalik pergi meninggalkannya, meninggalkan luka hati yang menggores jiwanya semakin dalam. Luka tak kasat mata yang selalu menjadi mimpi buruknya, tentang masa lalu yang tak dapat ia ungkapkan.

‘Kembali aku melihat kau beranjak pergi dariku, Kim Jaejoong.’

***

Ee bbeun merebahkan tubuhnya diranjang, matanya menerawang menatap langit – langit kamarnya. Pikirannya berkutat tentang masa lalu yang tak ingin ia hapus selamanya dari hidupnya, tentang cinta pertama yang tak terungkap. Tentang pria yang tak bisa ia lupakan hingga detik ini dan mungkin selama ia bernapas, pria itu akan selalu ada di hatinya.

‘Kau tak tahu, betapa dirimu tak tergantikan di hatiku!! Hanya kau yang selalu mengisi relung jiwaku, walau jiwa ini harus menahan sakit setiap mengenangmu Kim Jaejoong…’ disentuh dadanya perlahan, merasakan sakit yang kian menusuk hatinya.

‘Kenapa tuhan seolah tak menginginkanku tuk melupakanmu? Kenapa harus selalu hadir didalam pikiranku, mimpiku dan… hatiku?’ dipejamkan matanya perlahan, bibirnya terisak pelan. Ia benci harus terkenang masa lalu pahitnya.

***

“Oppa… Jaejoong oppa!!” Panggil Hiu Hwi kesal. Melihat tunangannya yang terus termangu dan mengacuhkannya.

“Ya! Jaejoong oppa!!”

Jaejoong terkesiap dari lamunannya. “Ne?”

Hui Hwi merengut, menatap pria didepannya kesal. “Aisshh~ oppa menyebalkan!!” dialihkan wajahnya cepat dari Jaejoong.

Jaejoong terkekeh pelan, melihat reaksi yang ditunjukan tunangannya itu. “Mwo? Aku menyebalkan? Aku salah apa?”

Hiu Hwi mendesah kesal. “Ya! Oppa dari tadi mengacuhkanku!! Dan itu sangat menyebalkan!!” dilipat tangannya di depan dada. Ditatapnya Jaejoong sendu.

Jaejoong kembali terkekeh pelan. “Ne, maaf aku salah. Jangan marah lagi ya?” diusapnya puncak kepala Hiu Hwi lembut.

Hiu Hwi menghela napas panjang. “Ne, tapi jangan lakukan lagi ya? Aku tak suka kalau oppa mengacuhkanku!!” Ditatapnya Jaejoong lekat. Tak biasanya Jaejoong mengacuhkannya seperti itu. Walaupun ia jarang bertemu dengan tunangannya itu, Jaejoong sangat perhatian dan tak pernah mengacuhkannya, mengabaikannya.

“Sebenarnya apa yang sedang oppa pikirkan? Kenapa dari tadi hanya terdiam? Apa oppa ada masalah hmm?”

Jaejoong terdiam. “Eh? aku.. aku-” Rahangnya menegang, entah apa yang harus ia katakan pada tunangannya itu. Tak mungkin, ia katakan yang tengah dipikirkannya saat ini. Terlebih ia memikirkan gadis selain tunangannya.

“Akhh aku hanya memikirkan beberapa pekerjaan yang kutinggalkan sebelum datang ke Seoul.” bohongnya, diulaskan senyum tipis. Berharap Hiu Hwi akan percaya dengan perkataannya.

Kening Hiu Hwi berkerut, entah kenapa ia merasa ada yang disembunyikan Jaejoong darinya. Tapi apa? “Benarkah? Oppa tidak bohong padaku kan?”

Disunggingkan kembali senyumnya. Digenggam jemari gadis didepannya lembut. “Ne, tak mungkin kan aku berbohong padamu.” dipererat genggamannya, meyakinkan tunangannya.

Hiu Hwi terdiam, matanya menatap jemarinya yang tengah di genggam Jaejoong. Lalu beralih menatap wajah pria itu. “Ne, aku tahu oppa tak kan berbohong dan menutupi sesuatu dariku.”

Jaejoong terbelalak, hatinya terasa tertohok mendengar perkataan Hiu Hwi. “Akhh ne, tentu saja.” diusapnya pelan punggung tangan tunangannya.

‘Maaf, hanya tentang Ee bbeun yang tak bisa kukatakan padamu…’

***

§§§

Kau tahu, hati ini hanya untukmu. Hanya kau dan takkan pernah terganti.

Walau jarak memisahkan, walau waktu telah berlalu tapi cinta ini tetap tumbuh dan berkembang hanya untukmu.

§§§

***

Ee bbeun terkesiap bangun saat terdengar dering ponselnya. Diraba sekitarnya, mencari ponselnya. Matanya mengerjap, membaca caller id penelponnya.

‘Yunho oppa? Tak biasanya ia menelpon.’ Ditekannya tombol terima dan mendekatkan poselnya ketelinga.

“Ne, oppa. Ada apa kau menelpon ku?” tubuhnya beranjak bangun dari tidurnya. Terduduk di ranjang.

“Mwo?? Kau didepan rumah??” Ee bbeun terlonjak, bergegas bangun dan berjalan cepat kearah jendela kamarnya. Matanya menatap kearah pria yang tengah melambaikan tangan kearahnya.

“Oppa, tunggu di luar ya? Nanti aku akan kebawah menemuimu.”ditutup telponnya.

Tangannya mengambil cardigan dilemari dan memakainya terburu. Kakinya bergegas menuruni tangga, menghampiri Yunho yang tengah menunggunya diluar.

“Aishh~ kenapa Yunho oppa datang tiba – tiba sih?” gerutunya kesal.

Langkah kakinya terhenti tepat di ruang tamu. Tubuhnya mematung, menatap pemandangan didepannya. Ditundukan wajahnya dalam dan berjalan cepat melewati sejoli yang tampak bercengkrama di ruang tamu. ‘Terus jalan Ee bbeun! Tak usah kau pedulikan Hiu Hwi dan pria itu!!’

“Ya!! Ee bbeun kau mau kemana? Kenapa terburu – buru?”

“Aku mau bertemu Yunho oppa, mungkin nanti malam baru akan pulang!!” jawabnya, tanpa menatap Hiu Hwi yang bertanya padanya. Kakinya terus melangkah, enggan berhenti.

***

Hiu Hwi menyerengit, melihat Ee bbeun melintasinya dan Jaejoong tanpa menyapa. Sepupunya itu tampak terburu, bahkan tak menoleh sedetikpun kearahnya.

“Ya!! Ee bbeun kau mau kemana? Kenapa terburu – buru?” tanyanya.

“Aku mau bertemu Yunho oppa, mungkin nanti malam baru akan pulang!!” jawab Ee bbeun, sambil terus berjalan.

“Ya!! Kau tidak boleh pulang malam!! Nanti malam ada jamuan untuk-” perkataannya terhenti saat pintu tertutup. Ee bbeun telah pergi. Hiu Hwi mendesah gusar. Tak biasanya Ee bbeun bersikap seperti itu padanya. Sepupunya itu memang jadi aneh, sejak menemaninya menjemput Jaejoong di bandara tadi pagi. Sebenarnya ada apa dengan Ee bbeun?

“Aishh oppa tahu, Ee bbeun tak biasanya seperti itu!! Tapi sejak pulang dari bandara sikapnya jadi aneh!! Menyebalkan sekali!” ujarnya gusar. Dialihkan wajahnya menatap Jaejoong.

Jaejoong terdiam menatap pintu yang tertutup. Perkataan Ee bbeun terngiang di telinganya. Gadis itu akan bertemu dengan seseorang yang tak ia kenal. Bertemu dengan pria yang namanya baru ia dengar dari mulut Ee bbeun. Siapa pria yang bernama Yunho itu? Dan apa hubungannya dengan Ee bbeun?

“Hiu Hwi, apa kau tahu siapa itu Yunho?” pandangannya tetap menatap pintu, tempat Ee bbeun pergi. Tak teralihkan.

Kening Hiu Hwi berkerut, mendengar pertanyaan Jaejoong. “Eh? Apa yang oppa tanyakan?” tanyanya, mempertegas pertanyaan Jaejoong padanya.

“Yunho. Siapa dia? Apa hubungannya dengan Ee bbeun?” Di tolehkan wajahnya menatap Hiu Hwi. Ia sedikit terkesiap saat Hiu Hwi menatapnya sendu, sorot mata gadis itu tampak tak suka.

“Akhh lupakan pertanyaanku. Aku hanya ingin tahu saja.” dialihkan wajahnya dari Hiu Hwi yang kini menatapnya curiga.

Hiu Hwi terdiam, matanya menatap Jaejoong lekat. Jaejoong tampak aneh dan ia baru menyadarinya. Walau ia tak begitu memahami tentang Jaejoong tapi ia yakin ada sesuatu yg berbeda dengan pria itu. Entahlah, hanya saja Jaejoong -.

***

Ee bbeun mendesah pelan, dilangkahkan kakinya kearah Yunho yang tengah menunggunya. “Ada apa oppa datang? Tak biasanya.”

Yunho terkekeh pelan, melihat raut ketidaksukaan yang tergambar jelas di wajah Ee bbeun. “Hanya rindu denganmu.” diusapnya puncak kepala Ee bbeun.

“Aishh~ kau selalu seperti itu, aku tahu kau datang bukan karena rindu denganku! Oppa pikir, aku tak tahu maksud kedatangan oppa hah?”

“Ya! Kau ini, selalu saja berprasangka tak baik padaku.”

Ee bbeun berdecak pelan. “Aishh~ Lalu untuk apa kau datang hah?”

Yunho menyerengit, di helanya napas berat. “Ya!! Kau ini, bahkan hal penting seperti hari ini kau melupakannya! Kau sungguh keterlaluan!”

Ee bbeun terdiam. Ia hampir melupakan sesuatu yang penting di hidupnya, kedatangan Jaejoong membuatnya melewatkan banyak hal. Bahkan hari paling tak terlupakan untuknya, akan terlewat begitu saja.

“Ne, aku hampir melupakannya.” bibirnya menyunggingkan senyum getir. “Kajha! Kita pergi oppa, aku tak sabar tuk bertemu dengan mereka.”

***

“Akhh bodoh!! Aku hampir melupakan hari ini!! Aishh~ pasti Ee bbeun ketempat itu bersama Yunho oppa!” pekik Hiu Hwi tiba – tiba.

“Ke tempat apa?”

Hiu Hwi menoleh cepat, menatap pria disampingnya. “Ke makam orang tuanya.”

“Eh?” Jaejoong terdiam, ia tak menyangka mendapat jawaban seperti itu dari Hiu Hwi. Jadi orang tua Ee bbeun sudah-.

“Mungkin oppa bingung tentang Ee bbeun. Ee bbeun adalah sepupuku dari omma. Dua tahun yang lalu, orang tua Ee bbeun meninggal karena kecelakaan mobil. Sejak saat itu Ee bbeun, tinggal bersama keluargaku dan Yunho oppa adalah cahaya penerang di hidup Ee bbeun sejak orang tuanya meninggal.” jelas Hiu Hwi.

Jaejoong terpangu, ia tak mengetahui apapun tentang Ee bbeun sejak ia meninggalkan Korea tiga tahun lalu. Ia memang putus kontak dengan Ee bbeun, perkataan terakhir yang gadis itu ucapkan membuatnya enggan bertemu dengan gadis itu lagi.

“Maksudmu pria yang bernama Yunho itu pria yang disukai Ee bbeun?” tanyanya ragu.

Hiu Hwi terdiam, ia sendiri tak begitu paham tentang hubungan sepupunya itu dengan Yunho. Pasalnya sepupunya itu tak bercerita banyak tentang diri Yunho, hanya bagi Ee bbeun; Yunho pembangkit semangat hidupnya dari keterpurukan.

“Mungkin, Ee bbeun menyukai Yunho oppa.”

Jaejoong terbeliak, rahangnya menegang mendengar jawaban Hiu Hwi. Ada rasa tidak suka yang terpancar jelas di wajahnya mengetahui hubungan Ee bbeun dengan Yunho.

“Akhh begitu rupanya…” sudut bibirnya tertarik, melukis senyum getir.

***

Ee bbeun terdiam, menatap pusara kedua orang tuanya. Ia tak menangis, ditahan semua laranya. “Appa, omma, tak terasa sudah dua tahun kalian pergi meninggalkanku sendiri. Kini aku mampu membiasakan diriku tanpa kehadiran kalian berdua. Aku berdoa, semoga kalian berdua bahagia.” disampirkannya senyum tipis. Ditaruhnya buket bunga lili putih di pusara kedua orang tuanya.

“Tahun depan, kalian akan melihatku menjadi jauh lebih tegar lagi. Aku janji.”dibalikkan tubuhnya, pergi.

Dilangkahkan kakinya cepat kearah pria yang tengah menunggunya. “Sudah. Kajha!! Kita pulang Yunho oppa.”

“Kau tak menangis? Tak biasanya?”

Kening Ee bbeun berkerut mendegar perkataan Yunho. “Mwo?! Ya Yunho oppa!!” dipukulnya pelan lengan Yunho. “Aishh~ Aku tak selemah dulu saat kita pertama bertemu!!” dilipat tangannya didepan dada kesal.

Yunho terkekeh melihat raut wajah Ee bbeun yang ditekuk. Diusapnya puncak kepala Ee bbeun lembut. “Ne, syukurlah kalau begitu. Aku senang, kau tak semelankolis dulu.”

“Ne, waktu membuat banyak perubahan bagi diriku. Kajha!! Kita pulang!!” dikalungkan lengannya dipergelangan Yunho, kepalanya bersandar dilengan kokoh pria itu yang begitu menenangkan hatinya.

***

§§§

Kehilangan. Kenapa harus ada kehilangan?

Kehilangan hanya meninggalkan luka dan kepedihan.

Menyisakan tangisan yang bersautan serta keterpurukan.

“Hei Kau!! Berisik!! Berhentilah menangis!! Tangisanmu takkan membuat kedua orang tuamu hidup kembali!!”

Ee bbeun menoleh pelan, tampak seorang pria tengah menatapnya kesal. “Aku tidak mengenalmu!! Kau tak berhak melarangku untuk menangis!!” teriak Ee bbeun sinis, kearah pria itu.

Pria itu berdecak pelan. Lalu berjalan mendekatinya. “Tangisanmu tak kan membangkitkan hidup orang tuamu!! Aku muak melihatmu selalu menangis!! Tangisanmu membuat telingaku sakit!!”

Ee bbeun beranjak bangun dari dekat pusara orang tuanya. Ditatap pria didepannya tajam. “Ya!! Kau!! Jaga bicaramu!! Aku benci dengan orang sepertimu yang tak tahu apa – apa!! Kau tak tahu bagaimana rasanya kehilangan!! Bahkan kau tak tahu bagaiman perasaanku!!” emosinya memuncak, menatap pria yang memandangnya remeh.

“Aku tahu seperti apa rasanya kehilangan.” ujar pria itu lirih. Matanya menatap nanar gadis didepannya.

Ee bbeun terpangu. “Eh?”

“Tapi aku tak seperti kau, yang menangis menghiba didepan pusara orang tuamu. Karena sekeras dan sekuat apapun kau menangis, mereka tak kan pernah hidup kembali!!” perlahan pria itu, mendekatkan wajahnya tepat disamping telinganya.

“Kalau kau menangis, mereka takkan pernah tenang. Kau hanya menambah berat beban orang tuamu.” bisik pria itu.

Ee bbeun menoleh pelan menatap pria disampingnya, perlahan tubuhnya limbung, ia terduduk. Tangisnya mengalir, kembali membasahi pipinya. Isakkan terdengar jelas dari bibirnya.

“Kau bodoh Ee bbeun, sangat bodoh….” gumamnya lirih.

§§§

***

“Ya!! Ee bbeun kau dimana? Kenapa belum pulang? Kau tak ikut jamuan makan malam untuk menyabut Jaejoong oppa hah?”

Hiu Hwi terbeliak, mendengar perkataan sepupunya di telpon. “Mwo?! Kau tak pulang?”

Bibirnya berdecak kesal. “Aishh~ Ya!! Ee bbeun, kau ini-”

“Ya!! Ee bbeun!! Ee bbeun!!” Hiu Hwi menatap layar ponselnya, sambungan telponnya terputus. Ee bbeun memutuskan sambungan telponnya. Tak biasanya sepupunya bersikap seperti itu.

“Aishhh~ sungguh menyebalkan sebenarnya apa yang dilakukannya? Kenapa hari ini ia aneh sekali?”

“Kenapa? Apa terjadi sesuatu?”

Hiu Hwi menoleh pelan, menatap pria disampingnya -tunangannya. Disunggingkannya senyum tipis, tuk pria itu. Digelengkan kepalanya perlahan. “Tidak terjadi apa – apa. Hanya saja, Ee bbeun takkan pulang hari ini. Membuatku cemas.”

Jaejoong terdiam. Bibirnya terkatup rapat. Ee bbeun tak pulang, gadis itu bahkan sedang pergi dengan pria yang tak ia kenal.

Hiu Hwi terpangu menatap tunangannya, kembali ia lihat raut wajah tunangannya yang meremang setelah membicarakan sepupunya. Ada suatu yang aneh, sesuatu yang terus mengganjal dipikirannya tentang Jaejoong dan-. Entahlah ia sendiri tak yakin tapi-, pikiran itu terus mengusiknya.

‘Kenapa kau kembali berwajah seperti itu? Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan oppa? Apa benar kau memikirkan-’ Digelengkan kepalanya cepat. ‘Tidak!! Tentu saja hal itu tidak mungkin tapi-’

***

“Jadi kau tak mau pulang? Apa ada masalah?”

Ee bbeun hanya tersenyum getir menanggapi pertanyaan Yunho. Digelengkan kepalanya perlahan. “Tidak, hanya sedang jenuh dirumah.”

Kening Yunho berkerut, menatap perubahan raut wajah Ee bbeun. “Kau pikir, aku bisa kau bohongi hah? Perasaanmu selalu tergambar jelas diwajahmu!!”

Ee bbeun mendesah singkat, matanya menerawang menatap gelapnya sang atap dunia. Ia tahu Yunho tak bisa ia kelabui, pria itu terlalu mengenal dirinya. Mungkin melebihi Hiu Hwi, pria itu tahu apapun yang melanda hatinya.

“Oppa, ingat tentang cerita cinta pertama ku?”

Yunho terbeliak, matanya membesar. Rahangnya menegang, tangannya terkepal geram. Ia tak suka Ee bbeun membicarakan tentang cinta pertama gadis itu. Entahlah, kenapa ia tak menyukai gadis itu yang selalu terkenang masa lalu terutama tentang cinta pertamanya.

“Ne, ingat. Lalu?”

Matanya menatap nanar, langit tak berbintang. Dipejamkan matanya perlahan. Dihirupnya napas dalam, menenangkan hatinya yang kian bergejolak.

“Pria itu telah kembali…” dirasakan sakit yang kian menggerogoti hatinya, lebih dalam.

Yunho terdiam, dilihatnya cairan bening mengalir pelan dari sudut mata Ee bbeun. Ia benci melihat tangisan, terutama tangisan Ee bbeun. Membuatnya kembali melihat sosok Ee bbeun yang pertama kali ia temui.

“Kau masih mencintai pria itu?”

Ee bbeun menoleh cepat, ia terkesiap mendengar perkataan Yunho. Dirasakan jantungnya berdegup kuat. Napasnya terhimpit merasakan sesak yang memenuhi hatinya. “Aku… aku-”

“Sudah tak usah kau jawab, aku sudah tahu jawabannya!!” selanya cepat. Tubuhnya beranjak bangun dari duduknya. Dilangkahkan kakinya pergi. Ditolehkan wajahnya pelan, menatap Ee bbeun yang terngah tertunduk dalam.

“Ya!! Mau sampai kapan kau seperti itu hah? Cepat bangun!! Kalau tidak ku tinggal!!”

Ee bbeun mencibir, ia bergegas menyusul Yunho yang kembali berjalan meninggalkannya. “Ya!! Yunho oppa!! Tunggu! Jangan tinggalkan aku!! Nanti aku tak ada tempat menginap, selain di appartementmu!!” teriaknya.

***

Ee bbeun menoleh pelan menatap Yunho. Disunggingkannya senyum tipis. “Aku masuk dulu. Terima kasih sudah mengizinkanku menginap di appartementmu Yunho oppa.”

Yunho terkekeh pelan. Diusap puncak kepala Ee bbeun lembut.”Ne, masuklah.” bibirnya mengulas senyum.

Ee bbeun mengangguk. “Ne, sampai jumpa Yunho oppa. Hubungi aku, kalau sudah sampai appartement ya!!” dibalik tubuhnya, berjalan masuk meninggalkan Yunho.

Yunho hanya tersenyum menatap Ee bbeun. Saat pintu tertutup, senyum dibibirnya berubah menjadi pilu. Pandangannya nanar, menatap pintu tempat Ee bbeun masuk.

“Ee bbeun, ada yang ingin kukatakan padamu tapi… aku-.” perkataannya tertahan, dihelanya napas berat.

“Mungkin belum saatnya aku mengungkapkan padamu…” dibalikkan tubuhnya perlahan, sesekali ia pandang tempat tinggal Ee bbeun.

‘Suatu saat akan ku ungkapkan hal itu padamu, Ee bbeun…’

***

Jaejoong terdiam, rahangnya menegang. Tangannya meremas tirai jendela kuat. ‘Apa pria itu yang bernama Yunho, Ee bbeun? Jadi benar kau semalam menginap ditempatnya?’

‘Setelah tiga tahun, banyak hal yang tak ku ketahui tentangmu Ee bbeun… Kau telah banyak berubah, membuatku tak mengenali dirimu sekarang…’ ditutupnya tirai jendela cepat. Kakinya beranjak pergi, saat dilihatnya Ee bbeun berjalan masuk ke dalam rumah.

***

Ee bbeun hanya diam menatap punggung pria yang berjalan tak jauh darinya. Bibirnya mengulas senyum getir. Hatinya terasa perih, menatap pria itu. Kim Jaejoong.

‘Jaejoong sunbae, bahkan kau yang pertama ku temui setibanya di rumah ini.’

Matanya menatap nanar. Rasa sesak menghimpit hatinya, menatap Jaejoong yang bahkan tak menoleh tuk menyadari kehadirannya.

‘Kau tahu Jaejoong sunbaenim, aku…. aku-’

Dilangkahkan kakinya pelan mengikuti pria itu yang kini menaiki tangga. ‘Bahkan sampai kini, aku terus mencari sosokmu. Kembali melihat kearahmu…’

Ee bbeun tahu apa yang ia lakukan kini adalah suatu kesalahan!! Mengikuti Jaejoong  akan membuat masalah bagi dirinya.Tapi-

‘Kenapa kau harus kembali? Disaat aku sudah bisa melupakanmu…’

Ee bbeun sadar, pria itu tak pernah terganti di hatinya walau waktu telah mengubur rasa dihatinya untuk pria itu tapi tak dapat ia pungkiri, rasa itu bangkit dan kembali memenuhi relung jiwanya. Rasa cintanya tuk pria itu. Kim Jaejoong.

Ee bbeun terkesiap, saat Jaejoong tiba – tiba berhenti berjalan dan menoleh cepat kearahnya. Tubuhnya terpaku saat pria itu berjalan menghampirinya.

‘Jaejoong sunbaenim…’

***

Jaejoong melangkah pelan, menaiki tiap anak tangga. Ia terus berjalan, matanya melirik sekilas. Ia tahu ada seseorang dibelakangnya. Seseorang yang tadi ia lihat dari balik tirai jendela ruang tamu. Ee bbeun. Gadis itu berjalan pelan dibelakangnya, tanpa ada niat mendahului langkahnya.

‘Apakah aku harus berbalik dan berjalan menghampirimu? Atau berpura – pura tak mengetahui kehadiranmu?’

Langkahnya terhenti. Dihirupnya napas dalam, dibalikkan tubuhnya. Matanya menatap Ee bbeun. Gadis itu tampak terkesiap, diam terpaku ditempat. Perlahan ia langkahkan kakinya berjalan menghampiri Ee bbeun.

‘Kau tak banyak berubah dari tiga tahun yang lalu Ee bbeun, hanya saja kau-’

Napas Ee bbeun tercekat saat Jaejoong semakin dekat dengannya. ‘Jantung ini kembali memompa berkali lipat saat kau sedekat ini denganku, perasaan ini tak berubah; masih sama seperti dulu Jaejoong sunbaenim.’ disentuh dadanya pelan, merasakan degupan jantungnya yang kencang.

Langkah Jaejoong berhenti tepat didepan Ee bbeun, manik matanya menatap lekat gadis didepannya itu. ‘Kembali aku berdiri didepanmu dalam jarak sedekat ini denganmu, Ee bbeun. Rasanya aku-.’

Ee bbeun menatap lurus pria didepannya, tepat di manik mata pria itu. ‘Jarak diantara kita ini, mengingatkanku tentang masa itu. Masa dimana aku bisa sedekat ini denganmu, sunbaenim. Dan bolehkah aku merasakan letupan yang memabukkan ini di hati ini kepadamu, seperti dulu. Apakah mungkin?’

Perlahan Jaejoong menggerakkan tangannya, rasanya ia sangat ingin menyentuh gadis didepannya. “Ee bbeun, aku-”

“Oppa!! Jaejoong oppa!! Kau sedang apa?”

Jaejoong terkesiap, terdengar suara dari arah belakangnya. Diturunkan tangannya cepat, mengurungkan niatnya tuk menyentuh Ee bbeun. Dibalikkan tubuhnya pelan, menatap seorang gadis yang kini berjalan kearahnya dan Ee bbeun, dengan air wajah yang sulit ia jabarkan.

“Akhh kau Hiu Hwi…” diulaskan senyumnya kearah Hiu Hwi.

Hiu Hwi berhenti tepat disamping Jaejoong, ditatapnya tunangannya itu lalu beralih kearah Ee bbeun, sepupunya. “Kalian berdua sedang apa? Kenapa terdiam di tengah tangga seperti ini?”

“Akhh itu, kami-”

“Tidak ada apa – apa diantara aku dan Jaejoong ssi. Kami hanya tak sengaja bertemu ditangga saat aku akan naik dan ia akan turun.” sela Ee bbeun cepat, matanya melirik kearah Jaejoong sekilas. Lalu menatap Hiu Hwi penuh, berharap sepupunya itu tak salah sangka dengannya dan Jaejoong.

Lebih tepatnya, Ee bbeun tak mau Hiu Hwi tahu kalau ia mengenal Jaejoong. Baginya masa lalu yang ada antara dirinya dan Jaejoong, hanya akan tersimpan di kotak ingatannya tanpa pernah ia buka kembali.

Hiu Hwi mengangguk paham. Tapi tetap ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Entah kenapa kali ini ia tak begitu yakin dengan perkataan sepupunya itu. Ada sesuatu yang janggal, tapi apa?

“Akhh begitu kah…”

“Aku mau ke kamarku dulu. Permisi.” dilangkahkan kakinya cepat menaiki tangga, berlalu meninggalkan Hiu Hwi dan Jaejoong.

‘Jangan menoleh ke belakang Ee bbeun!! Teruslah berjalan, jangan pernah kau tolehkan wajahmu kembali menatap masa lalu itu!! Jangan tolehkan wajahmu tuk menatap Kim Jaejoong!’

Jaejoong terdiam menatap Ee bbeun yang semakin jauh darinya. ‘Kenapa kau tak mengatakan kalau kita saling mengenal pada Hiu Hwi? Apa kau memang tak ingin mengenalku lagi, Ee bbeun? Apakah benar seperti itu?’

Hiu Hwi mengalungkan lengannya di pergelangan Jaejoong. Tunangannya itu kembali menatap Ee bbeun tuk kesekian kalinya. Disandarkan kepalanya di bahu Jaejoong, tapi tunangannya tetap tak bergeming. Dihelanya napas berat.

‘Mungkin ini hanya perasaanku saja atau benar, kalau kau selalu mencari sosok Ee bbeun, bahkan kau selalu menanyakan tentangnya padaku.’ dipererat kalungan lengan pada Jaejoong.

‘Ku harap apa yang mengganjal pikiranku ini salah!! tentang kau dan Ee bbeun!!’

***

Ee bbeun menutup pintu kamarnya kasar. Kakinya berjalan cepat menuju lemari pakaiannya. Dibukanya lemari terburu, mencari sesuatu yang harus ia singkirkan. Kotak  tempat ia menyimpan benda yang berarti baginya.

Ditatapnya kotak yang cukup besar itu, dihirupnya napas dalam. Dibukanya kotak itu perlahan. Digigit bibir bawahnya pelan, menahan cairan bening di pelupuk matanya agar tak tumpah. Tangannya meraih sebuah foto, air matanya tak dapat terbendung melihat foto itu.

“Kini, aku tak perlu lagi menyimpan fotomu, sunbae…” bibirnya terisak pelan, didekapnya foto itu didada.

“Karena aku tak bisa… mengharapkanmu… seperti dulu..”

Diseka air matanya terburu, tangannya kembali meraih botol kecil terikat pita merah dari dalam kotak. Botol yang berisikan kelopak bunga mawar yang telah mengering.

“Bahkan kelopak mawar merah pemberianmu ini telah layu dan mengering, seperti cintaku yang tak pernah tersampaikan padamu. Tak ada gunanya aku memendam cinta ini untukmu…” Napasnya memburu, ia terduduk. Menenggelamkan wajahnya diantara kedua lututnya, tangannya memeluk kakinya erat meredam isak tangisnya.

“Ee bbeun, kau… bodoh!! Sungguh bodoh!!” tangisnya kian kuat. “Kenapa kau harus mengharapkan cinta yang kau tahu takkan pernah menjadi milikmu!! bibirnya bergetar, isak tangis terus keluar dari bibirnya.

“Mestinya kau.. tak perlu menanti kesempatan kedua tuk mengungkapkan cinta itu padanya… karena- karena… ia telah menjadi milik orang lain!!”

Dipejamkan matanya perlahan, air mata semakin jatuh membasahi pipinya. “Kim Jaejoong kini milik…milik-..” seketika wajah Jaejoong tengah tersenyum kearah gadis itu tergambar jelas dipikirannya. “Milik saudaramu sendiri, milik seseorang yang juga berarti di hidupmu…Hiu Hwi….”

“Yahh kau milik Hiu Hwi, seseorang yang sangat penting di hidupku!!” diangkat wajahnya yang terpekur.

“Tak mungkin, kau akan menyakiti Hiu Hwi!! Takkan mungkin… kau akan menyakiti hati saudaramu sendiri Ee bbeun…”

Air matanya terus mengalir. Tangannya mengambil kotak dengan cepat dan mendekapnya. Kotak berisikan kenangan kebersamaannya dengan pria itu. Kotak yang sangat berarti baginya.

“Akan ku kubur semua tentangmu Jaejoong sunbae… takkan kubiarkan Hiu Hwi mengetahui kalau kita saling mengenal!! Hiu Hwi tak akan pernah tahu!!”

***

§§§

Apa kau tahu bahasa bunganya mawar merah?

Bahasa bunga mawar merah adalah; Mencintaimu

Saat seseorang memberikan mawar merah padamu, berarti kau adalah seorang yang penting di hatinya.

“Untukku sunbae? Kau serius?” Ee bbeun menatap tak percaya, setangkai bunga yang terjulur kearahnya.

“Untukmu.”

“Benarkah? Jaejoong sunbae tidak sedang mengerjaiku kan?” tanyanya ragu, entah kenapa ia merasa Jaejoong ingin mengerjainya. Ia sudah cukup bosan di kerjai seniornya ini selama orientasi siswa baru. Apalagi seniornya itu memberikan bunga mawar didepan senior lain dan teman – temannya.

“Ya!! Apa kau pikir aku sedang bercanda hah??” bentak Jaejoong kesal. “Kau mau menerimanya atau tidak??”

Ee bbeun terkesiap, dengan cepat ia ambil bunga yang diberikan Jaejoong padanya. “Akhh ne, tapi untuk apa sunbaenim memberikan mawar merah ini padaku? Apa sunbaemim-”

Jaejoong berdecak pelan. Dihelanya napas berat. “Aishh~ Aku kalah taruhan dengan anak osis yang lain, yang kalah harus memberikan mawar merah untuk anak baru yang paling sering dikerjai selama orientasi!! Karena aku sering mengerjaimu, makanya bunga itu ku berikan padamu!! Hanya itu!! Sudah kau kembali lagi ke barisanmu!!” dibalikkan tubuhnya, berjalan kembali ke tempat anggota osis yang lain.

“Jaejoong sunbaenim!! Tunggu sebentar!!” cegah Ee bbeun cepat, tangannya menarik pergelangan tangan Jaejoong.

Jaejoong menoleh kesal, ditatapnya lengannya yang dicengkram Ee bbeun. “Ada apa lagi hah?”

Ee bbeun melepaskan cengkramannya dari lengan Jaejoong. Ditatapnya Jaejoong penuh.

“Apa sunbaenim tahu bahasa bunganya mawar merah?”

Jaejoong menyerengit. Ia tak mengerti kenapa Ee bbeun menanyakan hal itu, lagipula ia tak tahu kalau setiap bunga punya bahasa. Aneh. “Aishh~ aku tak tahu!! Lagipula kau aneh, tidak ada bahasa bunga!!”

“Aku mencintaimu.” ditatapnya Jaejoong sendu.

Jaejoong terperajat, mendengar perkataan Ee bbeun. Gadis itu baru saja menyatakan cinta padanya. Apa ia tak salah dengar? “Eh?”

“Aku mencintaimu, sunbaenim. Mencintaimu.”

Jaejoong tergagap. Ya! ya.. Ee bbeun apa yang kau katakan hah? Aishh kau-.”

“Bahasa bunganya mawar merah ‘Mencintaimu’. Karena itu banyak pria yang memberikan mawar merah untuk gadis yang dicintainya. Karena mawar merah melambangkan cinta.”

“Tapi karena mawar ini kau yang berikan, tak ada artinya. Karena kau tak mencintaiku. Aku kembalikan mawar ini padamu, sunbaenim. Aku hanya ingin mawar merah dari pria yang mencintaiku.” diulurkan mawar itu kearah Jaejoong.

Jaejoong terdiam. Ditatap mawar yang terulur kearahnya. “Apa yang sudah kuberikan tak akan ku ambil kembali!! Anggap saja kalau aku mencintaimu!!” dibalikkan tubuhnya cepat berjalan meninggalkan Ee bbeun yang terpaku mendengar perkataannya.

“Eh? Jaejoong sunbaenim….” matanya menatap lekat mawar pemberian Jaejoong. “Baiklah, akan ku anggap kau mencintaiku.” ujarnya lirih. Bibirnya mengukir senyum tipis.

‘Kuharap, suatu saat kau akan benar – benar mencintaiku Jaejoong sunbaenim.’

§§§

***

Ee bbeun mengerjap pelan saat sinar mentari menerobos masuk diantara tirai jendelanya.  Ditopang tubuhnya bangun, tanpa sadar ia tertidur di lantai sambil memeluk kotak kenangannya. Luapan perasaannya dan memoar masa lalunya tentang Jaejoong seakan terus menggelayuti hatinya.

Bibirnya berdecak pelan. “Bahkan aku bermimpi tentangmu dimasa lalu.”

Ee bbeun sedikit terkesiap saat terdengar dering dari ponselnya. Di raihnya ponsel yang tergeletak disampingnya. Dilihatnya caller ID yang tertera di layar ponselnya.

“Yunho oppa? Tak biasanya menelpon sepagi ini.” didekatkan ponsel ke telinganya. “Ne, oppa. Waeyo?”

“Eh? Kau sudah didepan pintu rumah?” pekik Ee bbeun.

“Aishhh~ oppa kenapa suka sekali datang tanpa memberitahuku? Aku bahkan belum mandi!!” ujarnya kesal. Dilangkahkan kakinya cepat, berjalan keluar rumah.

Dibukanya pintu rumah cepat. Tampak seorang pria tersenyum melihat kehadirannya.

“Kenapa tidak menekan bell dan membiarkan pelayan membukakan pintu untukmu? Kenapa harus menungguku yang membukakan pintu? Yunho oppa kau sungguh menyebalkan!!”

Yunho terkekeh geli melihat raut wajah kesal Ee bbeun. “Aku hanya ingin, kau menjadi orang pertama yang kulihat saat pintu ini terbuka.” ujarnya, sambil masuk kedalam rumah.

“Aishh~ Ya!! Yunho oppa!!” bibirnya berdecak kesal. Dihela napasnya berat, melihat Yunho yang berjalan masuk mendahuluinya. “Aishh menyebalkan!!” ditutupnya pintu kesal, lalu berjalan menghampiri Yunho yang sudah duduk di ruang tamu.

“Kenapa oppa datang sepagi ini? Tak biasanya!!”

“Ya!! Kau cepat mandi, lalu temani aku ke pergi. Aku sedang malas ke kantor hari ini.”

“Mwo?! Ya!! Yunho oppa!! Kenapa kau suka seenaknya? Sungguh menjengkelkan!!”

“Sudah jangan banyak bicara!! Cepat kau mandi sana!! Aku tak tahan mencium bau tubuhmu!!” didorongnya Ee bbeun pelan, berjalan masuk untuk mandi.

“Ya!! Oppa!!” teriaknya kesal.

Yunho terkikik, melihat Ee bbeun yang menekuk wajahnya kesal. Tapi gadis itu tetap menuruti perkataannya untuk segera mandi.

“Kau selalu seperti itu walau terpaksa kau tetap akan melakukannya.” ujarnya lirih. Matanya menatap Ee bbeun yang tengah menaiki tangga menuju kamar.

“Ya!! Ee bbeun!! Mandinya cepat!! Aku menunggumu!!”

Yunho kembali terkekeh, saat terdengar suara pintu kamar yang tertutup keras. Jawaban yang diberikan Ee bbeun padanya, karena menyeruh gadis itu bergegas.

“Akhh Yunho oppa, rupanya kau datang. Pantas suara teriakan kesal Ee bbeun terdengar. Kau kan selalu suka menggodanya.

Yunho menoleh pelan, keasal suara itu. Ia tersenyum menatap gadis yang berjalan kearahnya. “Sepupumu itu paling manis saat wajahnya tertekuk masam. Makanya aku suka menggodanya, Hiu Hwi.”

Hiu Hwi terkekeh pelan. “Ne, aku setuju denganmu.”

“Akhh aku baru sadar kau terlihat cantik pagi ini, tak biasanya. Padahal kau dan Ee bbeun paling tak bisa bangun pagi.” ledek Yunho.

“Ya!! Oppa!! Aishh kau ini menyebalkan!! Kau memuji tapi menghinaku juga!! Yunho oppa menyebalkan!!” dilipatnya tangan didepan dadan. Matanya menatap Yunho kesal.

“Aishh~ kau dan Ee bbeun sama – sama menggemaskan dengan wajah tertekuk seperti itu. Membuatku semakin ingin menggoda kalian.” diacaknya gemas rambut Hiu Hwi.

“Ya!! Yunho oppa!! Jangan mengacak rambutku!! Aku mau pergi, nanti rambutku jadi berantakan!!” pekik Hiu Hwi, tangannya menghalau Yunho untuk menghentikan perbuatannya.

Yunho mengangguk paham. “Pantas kau sudah terlihat cantik dan rapih. Rupanya akan pergi. Kau akan pergi kemana? Dengan siapa? Aku dan Ee bbeun juga akan pergi.”

Hiu Hwi tersipu, rona kemerahan tampak dipipinya. “Aku akan pergi dengan tunanganku. Sebentar lagi ia akan siap oppa.” bibirnya mengukir senyum bahagia.

Yunho menyerengit. “Tunangan? Kau sudah bertunangan? Sejak kapan? Kenapa aku tak diberitahu hah?”

“Ne, aku sudah bertunangan. Nama tunanganku Kim Jaejoong. Maaf tak memberitahu mu, aku pikir Ee bbeun sudah cerita padamu.”

Rahang Yunho menengang. Ia pernah mendengar nama itu. Kim Jaejoong. Nama itu tak asing ditelinganya. ” Kim Jaejoong? Tunanganmu namanya Ki Jaejoong?”

Hiu Hwi mengangguk cepat. “Ne, namanya Kim Jaejoong. Ia tunanganku, oppa.”

‘Kim Jaejoong. Sepertinya aku pernah mendengar nama itu tapi dimana?’

***

Hiu Hwi terdiam, alisnya terpaut. Matanya menatap Yunho lekat. Pria itu tampak terpaku mengetahui berita pertunangannya.

“Yunho oppa, kau kenapa?” dilambaikan tangannya didepan wajah Yunho yang terpangu.

Yunho terkesiap. “Akh ne?”

“Ada apa oppa?”

Yunho menggeleng cepat. “Tidak. Hanya pernah mendengar nama tunanganmu tapi aku lupa dimana.”

“Benarkah? Yunho oppa, nanti akan ku kenalkan kau pada Jaejoong oppa. Kurasa kalian berdua bisa jadi teman. Jaejoong oppa seumuran denganmu Yunho oppa.”

“Ne, sepertinya kami bisa menjadi teman.”

“Akhh itu dia Jaejoong oppa!!” pekik Hiu Hwi tiba – tiba. Jaejoong telah siap dan berjalan kearahnya dan Yunho.

Hiu Hwi menoleh menatap Yunho. “Oppa, dia tunanganku Jaejoong oppa.” dilangkahkan kakinya kearah Jaejoong.

Yunho termangu, menatap pria yang kini digandeng Hiu Hwi. Wajah dan nama pria itu tak asing baginya. Ia pernah melihat dan mendengar nama pria itu tapi dimana?

‘Kim Jaejoong. Nama dan wajahmu tak asing bagiku. Siapa kau sebenarnya?’

***

Tangan Jaejoong terkepal, manik matanya menangkap sosok itu. Pria yang ia lihat kemarin malam mengantar Ee bbeun pulang. Pria yang berarti bagi Ee bbeun. Yunho.

‘Untuk apa pria itu datang sepegi ini? Bertemu Ee bbeun kah?’

Kakinya terus melangkah, berjalan menghampiri pria itu yang tengah berbincang dengan tunangannya.

Bibirnya mengulas senyum tipis saat Hiu Hwi menghampiri dan menggandeng tangannya.

“Oppa, akan ku kenalkan kau dengan Yunho oppa.”

Jaejoong hanya mengangguk singkat. Ia berhenti tepat didepan Yunho.

“Yunho oppa, kenalkan ini Kim Jaejoong tunanganku. Jaejoong oppa, ini Jung Yunho yang kubilang seorang yang berarti bagi Ee bbeun.”

“Kim Jaejoong. Senang mengenalmu Yunho ssi.” diulurkan tangannya learah Yunho.

Yunho menatap Jaejoong lekat, mengingat tentang pria didepannya itu. Pandangannya beralih ketangan yang terulur kearahnya. “Aku juga senang mengenalmu, Jaejoong ssi.” dijabatnya tangan Jaejoong, tanda perkenalan.

“Yunho oppa!! Aku sudah siap!! Kajha Kita pergi!!”

Yunho melepaskan jabatan tangannya dengan Jaejoong. Ditolehkan wajahnya cepat kearah tangga. Tampak Ee bbeun yang diam terpaku. Pandangan gadis itu nanar, menatap lurus kearahnya. Akh bukan kearahnya tapi-.

Yunho menoleh pelan, menatap pria disampingnya yang terpangu. Ya, Ee bbeun melihat pria itu. Kim Jaejoong. Raut wajah Ee bbeun kini sama saat menceritakan masa lalu padanya. Terlihat begitu sedih dan terluka. Kembali ia lihat raut wajah itu di wajah Ee bbeun saat memandang pria itu.

‘Kenapa kau menunjukan raut wajah seperti itu Ee bbeun. Apa Jaejoong, dia-’

Continue…

thanks for read :) dont be silent reader ok?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s